Jumat, 13 Februari 2009 0 Comments

Muak dengan Caleg


Sebenarnya apa sih yang diinginkan para caleg saat ini?
Berlomba-lomba dengan jor-jor an dana kampanye
Bahkan hingga taraf miliaran rupiah!
Dengan penuh semangat meyakinkan rakyatnya..
lewat janji-janji yang belum tentu terealisasi

Seorang caleg berkata "Kalau saya terpilih, saya akan memperjuangkan anggaran pendidikan 20%"
Caleg lain berkata "kalau saya terpilih, saya akan mendengar aspirasi rakyat"
Jadi kalau hanya terpilih saja mereka berjuang untuk rakyat jika tidak terpilih selesai sudah!


Maka pilih lah caleg dengan figur yang memang konsisten memperjuangkan rakyat, bukan tipikal yang berteriak-teriak lantang saat mendekati pemilu saja!
Pilih Caleg yang sebelum jadi caleg memang telah berjuang bagi rakyat..

Negeri ini memang blangsak,
ketika caleg-caleg penuh rekayasa, korup demi perebutan kekuasaan.. GOLPUT justru divonis Haram !!
Artinya mau tidak mau suka tidak suka contrenglah para caleg-caleg yang saat ini kurang lebih sama dengan pendahulu-pendahulunya. Pendahulu yang suka malas datang bersidang, asik kawin sana sini, dan asik kejar setoran lewat proyek-proyek.




Kamis, 05 Februari 2009 0 Comments

Asmara Dua Diana: Aku menunggumu di Malang


Nothing Special except the present of "si Malaikat Penggoda" yang bikin aku pengen banget nonton ni pilm. I Wont miss it! penelusuranku sich ni pilm masih beredar di Jakarta dan Sekitarnya, hmm mungkin 2 minggu lagi di Malang. Di Matos 21 sich masih Perempuan Sorbanan, ama Twilight.



Rabu, 04 Februari 2009 2 Comments

Journal 02: Even Beckham Start From The Bench



Dunia saat ini menjadi serba instan, skema "menjadi kaya dengan cepat" atau "kaya tanpa kerja" terlihat begitu menggiurkan dan tampak sangat menggoda. Mie goreng yang instan pula nampak menggiurkan dan menggoda setiap orang untuk mnikmatinya bukan? Namun semua seringkali sesat dan menipu!
Millenium dimana banyak individu-individu berperilaku secara otomatis, yang kepribadiannya telah dikarbit sedemikian rupa melalui kursus-kursus kperibadian sehingga senyumnya begitu sintetis, percakapan tanpa makna dan manipulatif. Semua dengan satu harapan mencari jalan pintas, dengan menambal sulam kperibadian, demi keuntungan pribadi. Sangat mudah menemui bentuk-bentuk praktek seperti itu saat ini, dunia penuh dengan muka-muka pria wanita pencari jalan pintass, berharap dapat melompati satu atau dua fase pertumbuhan demi menghemat waktu atau tenaga namun tetap mendapat hasil yang diharapkan(malas). Praktek ini terjadi di semua sendi kehidupan individu, keluarga, perkawinan dan organisasi.
Padahal secara alamiah alam mengajarkan prinsip tumbuh dan berkembang. Pada masa balita, seorang anak belajar untuk berguling, duduk, merangkak, kemudian berjalan hingga berlari. Tiap tahap penting dan membutuhkan waktu. Lalu apa yang terjadi jika kemudian kita memintasi sebuah proses dalam tahap tumbuh dan berkembang? Ambil contoh kita adalah pemain tenis yang baru 3 bulan berlatih kemudian terjun ke dalam game tataran tenis profesional, apa yang terjadi? Apakah dengan berpikiran optimis, yakin dan positif (kepribadian manipulatif) akan mampu mengantarkan hasil yang diharapkan?

Jawabannya tidak akan bisa. Hukum alam sudah jelas, tidak bisa melawan hukum alam tersebut. Setiap tahap tumbuh dan berkembang bukan untuk dilanggar atau diabaikan!
Maka jika berada di tingkat dua dan hendak ke tingkat lima maka lalui tingkat tiga terlebih dahulu..
Perjalanan Seribu mil dimulai dengan langkah pertama...
Hindari jalan pintas pada proses alami pertumbuhan, jangan pernah "membeli" budaya produktifitas, kualitas, semangat kerja dan peningkatan penjualan dengan gaya bicara kuat, latihan senyum dan bahagia buatan, kata-kata manipulatif, merger, akuisisi, kekerasan,paksaan, karena pondasi ini begitu lemah mengungkit kepercayaan sehingga malah akan mendatangkan kesuksesan semu.

Lihatlah Beckham, seorang superstar sepakbola, he starts from the bench! Dan tidak straight into the game..
so respect the process..


 
;