Tampilkan postingan dengan label The Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Diary. Tampilkan semua postingan
Senin, 08 Agustus 2011
Dunia dlm perspektif Andik,
The Diary
0
Comments
Dirgahayu SMAN 3 Malang | Bhawikarsu
Bhaktya ... Widhagda Karya Sudhira
S'bagai dasar hidup bahagia
Ku tak pernah lengah akan tugas s'bagai pelajar
Menjunjung tinggi peradaban bangsa [.........]
Dirgahayu SMAN 3 Malang semoga tetap jaya di darat laut dan udara
Mencetak insan pribadi yang menjadi penerus cita-cita bangsa
berperan aktif memajukan kesejahteraa umum dan kontribusi kepada umat manusia
Salam Kangen
Andik Kurniawan
a.k.a "teloer"
alumni angkatan 2000 eks CGV-2, Dosa Besar dan P3Ps1
Another hits maker single from One Republic~ Good Life~
Ryan Tedder berkata : " Jika saya sendiri tidak merinding ketika menulis bagian reff-nya, maka mungkin fans juga tidak merasa yang sama. Saya pingin membuat bulu kuduk mereka(fans) berdiri. Lagu-lagu kami memiliki melodi yang sederhana namun bercerita tentang kehidupan riil. Ini adalah komplesitas yang memakai topeng kesederhanaan"
Lagunya recommended banget guys :)
"Assalamualaikum blog, apa kabar cuy? lama ya rasanya aku tidak berkeluh kesah lagi kepadamu. Terakhir mungkin kurang lebih 1 1/2 tahun yang lalu ya :) ya beginilah blog, kalau sudah tidak ada lagi tempat aku bisa mengeluh dan mengaduh, ujung-ujungnya aku ya ke kamu blog. Kamu jangan bosen-bosen lah ya, kalo kamu aja sudah bosen, cuy, bisa gila aku nanti dibuatnya :)"
Aku rasa ini definitely bulan-bulan terberat dalam hidupku. Bulan-bulan dimana aku harus menghadapi tekanan dari para asessor, tugas-tugas yang mengalir bak air bah, masih juga harus mengalami masalah percintaan. Serasa tidak ada jeda waktu yang bisa aku gunakan untuk hanya sekedar menghela nafas. Parahnya lagi aku tidak memiliki tempat bersandar, blog!
Kalau aku ini ibarat kapal, maka aku ini adalah kapal nelayan bermesin tunggal yang terombang-ambing di tengah badai besar di lautan lepas tanpa ada bantuan maupun tempat untuk membuang sauh. Terkatung-katung, ngalor ngidul tanpa navigasi yang jelas.
Blog, pernah gak sih kamu ambil satu keputusan berdasarkan murni pertimbangan kebaikan bersama namun justru sekarang kamu malah jadi "Enemy of the State" alias musuhnya orang banyak. Keputusan yang dianggap baik justru malah berbalik jadi the worst decision i've ever made ?
Dicela di twitter, dihantam di telpon, dimaki di smsSaat ini bisa aku bilang dunia sedang tidak bersahabat denganku, blog! Belum pernah aku mengalami situasi yang so overwhelming seperti saat ini. Sedih, pedih, pahit, juga diperlakukan seperti ini, Blog! Ga enakk! serius!
Ibarat aku ini pelanduk, maka ada dua gajah besar yang berada diantara kutub yang berbeda. Ketika aku mendukung gajah A, gajah B marah besar terhadapku. Ketika aku mendukung gajah B, macan, singa, harimau semuanya aja langsung marah besar terhadapku. Nasib pelanduk ini akhirnya cuma ditengah-tengah, pun paling sial juga mati terinjak salah satu gajah itu.
Blog, aku sudah bikin satu (lagi) kesalahan terbesar dalam hidup aku. Total sama kejadian di tahun 2009 itu berarti (yang kasat mata) sudah dua kesalahan besar aku buat dalam 25 tahun aku hidup. Bedanya kalau di 2009 aku jadi korban penderita, sekarang aku malah jadi pelaku/tersangka utama.
Memang dari awal aku yang salah, kurang hati-hati, terlalu terburu nafsu, tidak cermat dalam mengambil keputusan maupun kesimpulan. Aku sendiri tidak tahu persis apa penyebab kecerobohanku ini, aku yang lumayan punya jam terbang dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis, malah seperti grasak-grusuk (aku baru bisa merasakannya sekarang). Aku malah bermain seperti amatir, tanpa perhitungan, tanpa perencanaan yang matang. Ah mungkin aku sudah dibutakan oleh cinta, atau mungkin nafsu pribadi.
Aku bermain terlalu koboi, seakan siap menghadapi sekawanan kuda-kuda liar tanpa takut sedikitpun walau dalam keadaan mabuk.
Dan sekarang berlakulah hukum tabur tuai, siapa yang menabur benih dia yang akan menuai (hasilnya). Aku jadi mengecewakan banyak pihak. Apa yang aku tabur dengan tidak sesuai sistem dan prosedur, kini aku menuai kegagalannya. Sebuah harga yang sangat mahal untuk memberikan aku pelajaran bagaimana menjalin sebuah hubungan.
Sungguh skenario yang luar biasa dari Tuhan Pemilik Alam Semesta ini, yang dengan kemurahanNya aku kemudian diberikan pengalaman melalui kesalahan terbesarku no. 2 ini. Dia memberiku peran sentral dalam sebuah drama percintaan, peran yang ternyata antagonis, dan ending yang jauh dari manis.
Hati kecilku memberontak terhadap skenario Illahiah ini, yang mengharuskan aku jadi orang terlaknat dan dikutuki oleh teman-teman baikku, harus mengambil sikap yang sangat pengecut, sangat tidak gentle. Mematahkan hati seorang wanita baik-baik.
Beginilah hakikat seorang manusia, dia hanya aktor dari skenario milik sang Sutradara Kehidupan. Tidak pernah memilih dilahirkan dari rahim siapa, tidak pernah bisa memilih mati dalam keadaan apa. Semua sudah digariskan, semua sudah menjalani perannya masing-masing, yang sudah dibagikan secara adil dan proporsional di lahulmahfudz.
Memang ini jalan yang sudah diberikan oleh Pemilik ruh, tugas aku hanya mengambil hikmah dan belajar dan terus belajar dari noda-noda yang selalu aku buat dalam kehidupan ini.
Beberapa kejadian di dunia ini memang akhirnya ada yang remain unspoken, tidak dijelaskan secara gamblang, tidak dijelaskan secara rinci, malah justru digelapkan atau disamarkan. Tujuannya tidak lain tidak bukan lebih menjaga situasi maupun kondisi status quo. Karena jika kemudian hal ini dijabarkan secara lugas, jelas malah kondisi yang muncul lebih jelek daripada status quo dipertahankan. Bisa lebih out of control ! saya rasa itulah kenapa kemudian ada beberapa kejadian di Indonesia maupun di dunia ini yang menjadi simpang siur alias status quo.
Kondisi yang aku jelaskan diatas terlihat sangat jelas dalam alur film "watchmen". Perang nuklir antara Soviet dengan US dapat kemudian diredam dan malah melahirkan kedamaian dengan menstatus quo kan atau mengkambing hitamkan dr. Manhattan. Padahal jelas-jelas Veidt lah yang menskenario itu semua. Skenario yang keji bagi dr. Manhattan, namun jelas malah membawa perdamaian walau underlyingnya sesuatu yang keji. Malah semua yang tahu akan ketidakbenaran yang terjadi dibungkam. Dunia akhirnya terselamatkan. Sangat Amerika sekali, yang penting hasil, don't care the process within! celakanya ini tidak hanya occur di film, aku mengalaminya.
Dini hari menyergap kota Semarang, namun ini belumlah tuntas. Dalam hening malam ini aku hanya bisa mengeluh dan bergumam, berpikir dan mengenang kembali titian jalan yang sudah aku pintal sepanjang usiaku. Sering dalam aku memintal helai demi helai-nya ada hati yang terluka, ada senyum yang tidak berbalas, ada kasih yang tidak sampai, ada harapan yang sirna, ada air mata kepedihan yang mengalir turun, ada isak tangis yang pecah, ada duka yang mendalam, pun tak sedikit derai tawa riang gembira,suka dan cita, janji dan realisasi, cinta yang tumbuh dan bersemi, hari-hari yang tak lagi sepi. Untuk kesemua itu mungkin tiada cukup berucap maaf, mungkin tiada cukup dibalas dengan bulan maupun bintang. Ternyata kemampuan manusia hanya sampai disini. Mungkin hanya yaumil mizan lah tempat seadil-adilnya pembalasan, terhadap setiap kebaikan maupun keburukan yang aku tabur maupun tuai.
Tulisan ini bukan excuses atas kelalaian, kekhilafan maupun kesalahan yang telah aku perbuat. Ini lebih merupakan catatan kaki, sebuah pelajaran berharga yang mugkin bisa aku ceritakan ke anak-cucuku kelak. Tidak aku memohon, kepada siapapun, dan pihak manapun untuk memahami, bersimpati, memaafkan ataupun mengikhlaskan. Biarlah aku dan Tuhanku, tempat aku memasrahkan semua perkara-perkara ini.
Dalam doa kecilku pagi ini, memang bukan di musola atau di masjid, melainkan dari sebuah kamar sederhana, aku lantunkan doa kepada hati-hati insan dunia yang mungkin pernah sengaja atau tidak sengaja terluka, kepada setiap perkataan yang tiada berkenan, semuga dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya.
Footnote : 1). Writing while playing a. Geisha-cinta dan benci b. Vidi-pelangi di malam hari
Buraidah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Dalam tubuh manusia terdapat 360 persendian, dan ia wajib bersedekah untuk tiap persendiannya.”
Satu ketika sembari melepas penat setelah seharian berkutat dengan pekerjaan di kantor, aku dan rekan-rekanku mengunjungi sebuah tempat makan pem-pek yang konon paling kondang se-Semarang raya.
" Satu kapal selam, minumnya jeruk anget" kataku. Lalu kamipun larut dalam obrolan-obrolan ringan seputar pekerjaan.
Tak selang beberapa lama, datanglah seorang anak muda usia yang mendekat kepadaku dan kemudian dengan isyarat dia menawarkan diri untuk menyemir sepatuku. Bajunya lusuh penuh bekas semir disana-sini, raut wajahnya lelah, dan jelas terlihat dia sudah banyak mengalami pahit getir kehidupan (mungkin lebih banyak dari yang pernah aku rasakan). Tanpa babibu lagi aku serahkan sepatuku kepada anak itu. Seketika pikiranku melayang, sungguh hidup ini telah begitu berat, hingga anak yang masih begitu belia harus berpeluh-peluh mencari nafkah. Pukul 19.00 dan si anak ini nampaknya sudah sejak sore kesana kemari menawarkan jasa semir sepatunya.
Apa ya cukup mengandalkan uang dari jasa semir macam ini?
Ah salut aku padamu, sedari kecil kau sudah mampu berkekuatan hati untuk tetap tabah dan tegar menjalani hidup yang keras alih-alih mengeluh dan meratapi keadaanmu.
My personal opinion is "menyemir sepatu somehow terasa lebih terhormat dan bermartabat ketimbang jadi pengemis jalanan". Keduanya atas nama mencari makan, keduanya butuh skill, bedanya kalo semir servis dulu baru uang nah kalo pengemis gak ada servis.
Agak menyesalkan juga sih sikap seorang teman yang menapik tawaran semir dari si anak.
"ayolah bro..it wont cost you a dollar" gumamku dalam hati.
Lagian inikan ajang kita bersedekah yang mudah dan gak rempong.
Lagi-lagi kemudian pikiranku melayang-layang, sebenarnya kita ini memang di"tuntut" banyak bersedekah. Setiap karunia hembusan nafas, karunia pikiran, karunia rejeki, dan banyak lagi itu semuakan ada sedekah yang harus di"bayarkan". Aku punya satu pengalaman menarik, bulan februari ini jujur saja aku agak kurang bersedekah. Biasanya begitu aku terima gaji, sudah otomatis aku sisihkan untuk bersedekah terlebih dahulu. Nah karena ke alpa-an ku ini, Alloh nampaknya kurang berkenan, akhirnya pada suatu transaksi tiket pesawat (pekerjaan sampingan) aku harus mengganti rugi klien ku sebesar beberapa ratus ribu karena salah booking. Awalnya aku sebel bukan buatan, karena untung dari ticketing tidak seberapa namun aku harus menanggung kerugian yang cukup lumayan. Namun akhirnya aku tersadar, aku lalai bersedekah. Alhamdulillah aku disadarkan olehNya.
Sedekah itu mudah, sedekah itu justru mendekatkan bukan menjauhkan rizki. Banyak jalan untuk bersedekah. Cukup amati sekitar lingkungan kalian, aku yakin akan kalian temukan obyek-obyek sedekah. Selamat bersedekah :)
footnote:
1. This photos taken withou permission from anggitosoegito, thanks ya Mbak :p
Agak menyesalkan juga sih sikap seorang teman yang menapik tawaran semir dari si anak.
"ayolah bro..it wont cost you a dollar" gumamku dalam hati.
Lagian inikan ajang kita bersedekah yang mudah dan gak rempong.
Lagi-lagi kemudian pikiranku melayang-layang, sebenarnya kita ini memang di"tuntut" banyak bersedekah. Setiap karunia hembusan nafas, karunia pikiran, karunia rejeki, dan banyak lagi itu semuakan ada sedekah yang harus di"bayarkan". Aku punya satu pengalaman menarik, bulan februari ini jujur saja aku agak kurang bersedekah. Biasanya begitu aku terima gaji, sudah otomatis aku sisihkan untuk bersedekah terlebih dahulu. Nah karena ke alpa-an ku ini, Alloh nampaknya kurang berkenan, akhirnya pada suatu transaksi tiket pesawat (pekerjaan sampingan) aku harus mengganti rugi klien ku sebesar beberapa ratus ribu karena salah booking. Awalnya aku sebel bukan buatan, karena untung dari ticketing tidak seberapa namun aku harus menanggung kerugian yang cukup lumayan. Namun akhirnya aku tersadar, aku lalai bersedekah. Alhamdulillah aku disadarkan olehNya.
Sedekah itu mudah, sedekah itu justru mendekatkan bukan menjauhkan rizki. Banyak jalan untuk bersedekah. Cukup amati sekitar lingkungan kalian, aku yakin akan kalian temukan obyek-obyek sedekah. Selamat bersedekah :)
footnote:
1. This photos taken withou permission from anggitosoegito, thanks ya Mbak :p
Minggu, 19 Desember 2010
The Diary
2
Comments
Bogor - Jakarta (suatu ketika didekat jendela bis antarkota)
"Tissue,permen,tolak angin-tolak angin-tolak angin", kata seorang asongan membuyarkan konsentrasiku. It's 8:30 dan aku membisu dalam bus trayek bogor-jakarta. Tidak terasa sudah satu tahun dua bulan aku merantau keluar dari zona nyaman kota Malang,dimana aku mengeram lebih dari 20 tahun lamanya. Semua aku lakukan, demi Tuhan, bukan atas nama ambisi pribadi. Semata-mata aku ingin memprovide yang terbaik bagi anak dan istriku kelak. Mungkin sementara hanya ini yang bisa aku lakukan, mempersiapkan kemapanan finansial. "Lalu bagaimana dengan aspek rohani? Apakah aku sudah siap menjadi imam bagi istriku kelak? Bukankah menjadi suami itu pertanggungan jawabnya dunia-akhirat?"
Bukannya diri ini tidak mempersiapkan kematangan secara rohani,kematangan secara agama, tapi memang terusterang saja untuk persiapan aspek rohani menyisakan Pe-er yang cukup banyak. Logikanya sebelum aku ngopyak-ngopyak istriku baca qur'an,seyogyanya aku sudah rutin baca qur'an terlebih dahulu. Sebelum aku membangunkan sholat malam istriku, semestinya sholat malam sudah ibarat sego-jangan bagiku. Dan aku sampai saat ini belum bisa melakukan semua itu, hanya karir saja yang aku sudah bikin pathnya, yang lain masih kabur! Kedonyan mungkin ini kata yang pas. Bukannya tidak berpikir kearah sana, tapi maksud aku biar aku persiapkan secara berurutan tidak sekaligus. Bukan mengabaikan, aspek itu sangat penting, aku sepakat mutlak, namun kapasitasku masih belum mampu untuk mempersiapkan keduanya secara bersamaan. I'm not seeking for excuses. Kalau karena hal ini kemudian aku dianggap belum siap, that's not fair. Aku jadi teringat diskusi ringanku dengan Dimas waktu itu di sisi lapangan sebelum pertandingan Indonesia vs Vietnam, dia berujar "bro, ketika aku memilih seseorang untuk menjadi istriku, yang aku timbang-timbang adalah apakah dia bisa aku rubah agar sesuai dengan apa yang aku inginkan? Kalaupun aku harus menerima dia dengan kondisinya, sampai sejauh mana aku mampu mentolerir kelemahan-kelemahan/kekurangan dia" "no bodys perfect my friend" sambungnya. Kita bicara potensi seseorang, kita bicara possibility, bukan kondisi saat ini, masa kini. Karena everybodys changing, isn't it?
Kemudian terlantunlah dari bibir para musisi lagu jalanan yang numpang cari nafkah di dalam bis. Lagu berjudul "apa salahku" yang entah bagaimana bisa menambah sendu suasana bis pagi ini.
#Apa salahku, kau buat begini/kau tarik ulur hatiku/hingga/sakit yang kurasa...#
Nb : penulis sedang rindu setengah mati
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Kemudian terlantunlah dari bibir para musisi lagu jalanan yang numpang cari nafkah di dalam bis. Lagu berjudul "apa salahku" yang entah bagaimana bisa menambah sendu suasana bis pagi ini.
#Apa salahku, kau buat begini/kau tarik ulur hatiku/hingga/sakit yang kurasa...#
Nb : penulis sedang rindu setengah mati
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Kamis, 02 September 2010
Dunia dlm perspektif Andik,
The Diary
0
Comments
Selamat Jalan Partner (A tribute to Bambang PY)
Dalam setiap perjumpaan pasti ada perpisahan
His name is Y.P Bambang P.Y, a solid guy who became, both, my partner and my best friend in PT. Perfetti Van Melle Indonesia. He taught me how to dealing with people, how to get sales, how to manage distributor team and he taught me "it is'nt easy to become a good sales".

We were responsible for the same distributor, might be the one and only on PVMI history, two supervisor in one distributor. Our target is breakdown in two, if i can achieve target but he can't, then both of us are underachieving. Thats why many colleagues, superior called us a "twin" or " a banded sales supervisor".
He decide to resigned from the current position effective on 30 August 2010. I wish him a good luck and all the best for his future endeavour.

So long my Friend :)
Senin, 30 Agustus 2010
The Diary
1 Comments
Seperempat Abad (Sebuah Catatan Perjalanan) bagian ketiga

10 Agustus 2010 - Bandung Lautan Api
I feel fine and i feel good/ i feel like i never should/whenever i get this way/ i just dont know what to say/why can we be ourself like were yesterday ..[stabbing westward-bizzare love triangle]
Bandung hari kedua, cuaca cerah berawan, matahari masih malu-malu kucing dibalik awan putih bergulung-gulung, temperatur 22 Celcius, dan kondisi fisik saya 80%, tidak 100% karena tenggorokan buat nelan sakit.
Hari ini seleksi tahap kedua, psikotest. Dalam kurun 6 bulan ini, ini sudah psikotest ke 3 yang saya ikuti dan saya cukup confident bisa melaluinya meskipun belajar soal-soal psikotest terakhir sudah setahun yang lalu. Bukannya sombong kawan, tapi psikotest pada intinya adalah menguji kemampuan dasar secara normal seorang manusia. Dan kemampuan ini diperoleh manusia dari jaman belajar "mbrangkang" kemudian mengeja "a-ba-ta-sha" lalu tahap cinta monyet SMA dan ujungnya bandelnya mahasiswa. Dalam setiap tahapan itu kemampuan seorang manusia berkembang, kecuali dia orang hidup bagaikan katak dalam tempurung ya. Kegagalan di tahap psikotest menurutku lebih pada ketidaksiapan, kegugupan, dan kurang memahami (instruksi) soal tersebut. Kecuali IQ dia orang mendadak drop dibawah 90, aku rasa tidak sulit mengerjakan soal psikotest. Dan ibarat test toefl, beberapa kali pun dipelajari, tiap-tiap manusia memiliki peak masing-masing, dan peak tersebut meskipun mati-matian digenjot tidak akan banyak berubah.
Soal psikotest pun sejauh pengamatanku tidak banyak variasinya, dan aku pernah mengalami soal psikotest milik satu instansi ternyata jadi bahan test instansi lain. Gambar berseri, pengujian daya imajinasi, dan logika.
Sedikit tips buat kawan-kawan yang mungkin akan menghadapi psikotest adalah aturan no. 1 jika kalian kehabisan waktu maka segera lanjut kehalaman berikutnya, dan aturan no.2 jika kemudian kalian ada waktu lebih kembalilah pada halaman-halaman yang kalian tinggalkan tadi. Dan aturan 3 jika anda sangat panik dan kemudian banyak tertinggal maka jangan biarkan banyak nomer kosong tidak berisi. Sedikit disclaimer ya, cara ini tidak dibenarkan ketika psikotest, untuk itu lakukan dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya
Pada setengah hari, namaku tercantum sebagai peserta yang lulus dan berhak mengikuti tahapan test B.Inggris dan Wawancara dengan konsultan. Test model marathon macam ini bener-bener butuh kombinasi fisik dan psikologis yang prima. Setelah dihujani soal-soal psikotest, masih harus melalui tahapan b.Inggris dan pada akhir hari harus tampil prima dan meyakinkan dihadapan pewawancara. What a Day!
Saat test B.Inggris berlangsung, aku sudah bikin plan sempurna! aku memilih duduk di dekat speaker agar lebih jelas ketika sesi listening dimulai. Maklum telinga jawa seperti aku agak susah mencerna obrolan turis-turis :) Tempat duduk itu dekat dengan seorang peserta test yang membawa pensil 2B lebih dan karet penghapus. Bukannya tidak modal kawan, tapi pensil 2B ku raib entah kemana sedangkan adiknya, si karet penghapus, masih terkulai di kamar kost-an di Jakarta (baca:ketinggalan).
Sesi listening berjalan sempurna sesuai plan, aku pun juga meminjam pensil 2B dan karet penghapus sesuai plan. Namun penomeran sial di buku soal mengacaukan kekhusukan ku dalam menjalani test ini. Can you imagine, nomer soal di buku tidak singkron dengan nomer di lembar jawaban? maksudku begini, test ini terbagi menjadi 4 sesi dan setiap sesi kurang lebih terdiri dari 25 soal. sehingga nomer di lembar jawaban adalah 1-100, sementara nomer soal setiap sesi 1-25. Apa akibatnya?
Akibatnya cukup fatal,kawan! Aku akan cukup kerepotan jika kemudian aku menemui nomer 78 di lembar jawabanku kosong belum terjawab. Aku harus membolak-balik lembar soal lalu mencari no.78 berarti ada di sesi mana. Dan sialnya lagi setelah aku sampai di nomer 90 pada lembar jawaban ternyata setelah aku hitung aku baru mengerjakan 89 soal, nah lo! ada selisih satu nomer! setelah aku lacak dalam keadaan panik dan kehabisan waktu, no.82 berisi jawaban no. 83 dan jawaban no.83 berisi jawaban no.84 begitu seterusnya. Akhirnya aku melakukan recheck menyeluruh karena kuatir kesalahan ini meluas tanpa aku sadari.

Akibat insiden ini, aku sama sekali tidak optimis lolos test B.Inggris kali ini. Soal-soalnya sungguh tidak sulit, hanya saja insiden itu mungkin saja malah membuat banyak jawabanku yang tidak pas. Aku hanya bisa pasrah, hanya kebesaranNya lah yang mampu meloloskanku ketahap berikutnya.
Sesi wawancara dengan konsultan dijadwalkan berlangsung pukul 16:00, saat ini pukul 15:30, sudah masuk waktu Ashar, maka aku berlari-lari kecil ke Masjid Al Jihad. Pewawancaraku wanita muda, berkrudung, berparas manis, berperawakan kecil. Beliau adalah konsultan dalam seleksi kali ini dan berasal dari Universitas Gajahmada. Dalam kesempatan pertama beliau menyodorkan hasil karyaku saat sesi psikotest, sebuah gambar pohon berdaun lebat, berbatang keras, yang nampak kokoh dengan efek gradasi cahaya pada sisi batangnya. Dengan terangterangan beliau menyatakan suka pada gambar pohon yang aku beri nama Akasia. Jujur saja kawan aku sendiri belum tahu bagaimana rupa akasia itu. Dan itu adalah gambar pohon pertama sejak kapan ya?! sejak lama sekalilah, pada test sebelumnya aku hanya diminta gambar orang.
...[bersambung lagi yeeee]
Senin, 23 Agustus 2010
The Diary
0
Comments
Seperempat Abad (Sebuah Catatan Perjalanan) - bagian kedua
[sambungan dari bagian pertama]
9 Agustus 2010 - Pagi Bandung :)
Pagi masih berbalut sepi di Pasteur Bandung,jam menunjukkan pukul 6.30 WIB. Aku percepat langkahku menyusuri underpass jembatan layang Pasopati. Aku agak terburu-buru pagi itu, maklum saja aku belum pernah naik angkot sendiri di kota Bandung. Aku hanya diberitahu untuk naik angkot dari bawah jembatan layang pasopati untuk bisa sampai ke Unpad.
Sudah hampir 7 bulan lebih aku "pisah ranjang" dengan moda transportasi angkutan umum macam angkot begini, aku selama di Jakarta kemana-mana menunggangi suprafit aset kantor.
Jangankan Bandung, kalau di Jakarta ada yang menanyakan "Bang, kalau ke Grogol dari Blok M nomer berapa?" maka aku hanya bisa tersenyum kecut sambil berkata " Maaf Bang, ndak tau".
Angkot di Bandung kurang lebih sama dengan di Malang, atau mungkin juga sama dengan di kota-kota lain. Hanya saja, ini mungkin hanya perasaan aku saja, angkot Bandung raja ngetem (berhenti, menunggu penumpang,tapi di tikungan jalan.red). Kalau sudah ngetem, Mang supir taunya hanya angkot dia penuh saja. Tidak peduli penumpangnya sudah terlambat masuk kantor, tidak peduli penumpangnya pada kegerahan, pun tidak peduli ada Ibu-ibu hamil mau "mbrojol". Dan aku bukannya tidak antisipatif, kawan! terhadap perlakuan tidak manusiawi Mang Supir. Alih-alih aku langsung buru-buru naik angkot yang lagi ngetem itu, aku justru memperlambat jalanku, dan terbesit aku tetep jalan saja melalui si angkot. Tapi ragu juga karena aku tidak yakin apa aku sudah berada di daerah trayek angkot menuju Unpad. Dilematis bukan? !
Di sela pikiranku yang masih "loading" menganalisa dan melakukan sintesa sebab akibat, Mang Supir malah berulah! dia sengaja memainkan pedal gas angkot sehingga jika dari sudut pandangku, si angkot sudah akan berangkat. Aku yang masih lugu, berteriak girang dalam hati dan menghamburkan diri naik ke angkot itu. Dan raut senang wajahku berubah beberapa detik kemudian setelah angkot bukannya jalan malah mundur ngetem lagi. Olala, aku tertipu! taktik maju-mundurnya angkot memperdayaiku.
Pagi itu aku memetik pelajaran moral no. 2 Kalau ada angkot ngetem dan melakukan trik maju-mundur, jangan terpedaya! tetap saja jalan terus ke depan, siapa tau ada angkot yang gak doyan ngetem melintas! trust me it works (70%) :)

Setelah sesi administrasi selesai, aku bergerak menuju masjid Al-Jihad Unpad, sudah masuk waktu shalat lohor. Kampus Unpad yang berlokasi di Dipati Ukur tidak terlalu luas dan hanya "dihuni" oleh fakultas ekonomi dan hukum saja (kalau tidak salah hehe). Jarak antara seleksi administrasi dengan pengumuman lolos seleksi administrasi sekitar 6 jam. Artinya pengumuman baru akan ditempel sekitar jam 18.00 WIB. Kami pun akhirnya memutuskan untuk wisata kuliner dan nonton film di BIP. Kami? seperti biasa aku selalu memiliki teman baru di mana saja aku mengikuti test. Ketika test di UI aku punya teman baru dari Fakultas Psikologi, yang ternyata aktivis ICW, ketika test di Sekolah Administrasi Pejompongan, aku pun mengakrabi kawan-kawan dari IPB, ITS maupun yang AJE (Anak Jakarte). Dari perkawanan inilah aku memiliki networking yang bertambah. Dan trust me (again), Man! it really fun dan bermanfaat.
Pelajaran moral no. 3 Ketika kita berada di lingkungan yang baru, salah satu tidakkan bijak yang dapat anda lakukan dengan efek jangka panjang adalah berkawan!
Sejauh ini aku cukup amazed dengan kawan-kawan baru yang aku temui selama merantau di Jakarta. Dulu sebelum aku menginjakkan kaki di kota ini, aku sudah membayangkan Jakarta adalah rimba belantara bagi pendatang seperti aku. Lebih-lebih berita di teve dan koran yang isinya dijambretlah, ditodonglah, diini lah diitu lah, yang semuanya membuat Jakarta terkesan angker. Namun Alhamdulillah, aku selalu mendapatkan kawan baru yang menyenangkan dan mendapat lingkungan yang very supportive, mungkin aku akan posting tersendiri masalah ini, kawan.
Selepas maghrib, Bandung diguyur hujan lebat, aku dan kawan-kawan peserta seleksi hanya bisa berteduh sembari berharap hujan akan segera berlalu. Hingga jam 19.00 WIB dalam kondisi yang sudah lelah dan ingin cepat pulang, pengumuman tak kunjung muncul. Aku cukup worry dengan keadaan seperti ini, secara fisik dan psikologis aku butuh kesegaran dan istirahat yang cukup untuk melanjutkan test esok hari (jika lolos). Namun kenyataannya aku masih stuck di Unpad, ditengah hujan yang cukup deras.
Alhamdulillah panitia kemudian menggotong sebuah papan pengumuman yang sudah tertempel nomor-nomor test yang lolos ke tahap berikutnya. Meskipun hujan tak kunjung reda kami berdesak-desakkan saling berebut ingin melihat apakah ada nomer kami tertera dipapan tersebut. Keadaan ini mengingatkanku pada desak-desakannya kita ketika melihat pengumuman UMPTN, yah kurang lebih seperti itu.
Dan Malam itu Allah mengabulkan doaku. Di tengah deras hujan yang mengalir dari kami berempat (kawan-kawan baru UNPAD) hanya aku yang lolos. Kami saling menguatkan dan berpisah sembari saling berucap doa kebaikan bagi satu sama lain.
[..bersambung lagi yaaa]
Footnote :
1. Gambar jembatan Pasopati dicuplik tanpa permisi dari sini
Sabtu, 21 Agustus 2010
The Diary
1 Comments
Seperempat Abad (Sebuah Catatan Perjalanan) - bagian pertama
Beralaskan tikar gulung, saya memikirkan masa depan
Bermandikan lampu neon 75 watt, saya memikirkan masa depan
06 Agustus 2010 - Slipi, Jakarta
Tidak banyak yang tersisa, hanya 1 lembar uang lima puluh ribuan saja di dompetku. Untung saja sudah akan masuk bulan puasa, artinya proporsi pengeluaran bisa aku tekan seminimal mungkin. Lebih-lebih aku butuh lebih banyak proporsi uang untuk membiayai perjalananku ke Bandung tanggal 9-10 Agustus 2010. Ya, kawan, aku sedang merencanakan mengikuti test tahap awal sebuah Perbankan BUMN yang rencananya akan dihelat di Bandung. Jujur saja terbesit rasa gamang harus menempuh jarak ratusan kilometer, dan belum ada kepastian apakah aku mampu melalui test tahap pertama ini dengan mulus. Apalagi biaya yang harus aku keluarkan juga tidak sedikit. Benar-benar sebuah "perjudian".
Maka siang itu selepas jumat'an, aku berkeluh kesah sejadi-jadinya kepada Tuhanku. Tentang kesukaran, tentang pergulatan, tentang kehidupan yang makin lama makin tidak mudah.
08 Agustus 2010 - Tol Jakarta-Bandung
Awan hitam menyergap slipi seketika, bergulung-gulung dari timur menuju ke barat. Kelamnya memudarkan kilau matahari sore itu,gemuruhnya mengiringi keberangkatanku sore itu.
Shuttle service di kebun jeruk sudah mengkonfirmasi keberangkatanku pada pukul 19:30 WIB, sementara aku sedang asyik menyiapkan baju dan perlengkapan lain, printerku pun tak kalah sibuknya memuntahkan berlembar-lembar dokumen prasyarat test. Aku adalah termasuk bilangan orang yang cukup percaya dengan tagline "a well preparation is a good fondation of success". Aku gila persiapan, meskipun aku tidak bisa dibilang well-organised, namun im a good d*mn planner. Tabiat ini entah aku absorb dari siapa. Mungkin ibuku, ya, Ibu semestinya Master Planner.
Ini adalah foto yang menunjukkan persiapanku untuk menghadapi hari penting no 3 setelah urusan khitanan, yaitu hari sidang skripsi. Baju, jas almamater, celana hitam, dasi, semua sudah tergantung siap pakai tepat sehari sebelum ujian dimulai. Aku paling benci terburu-buru, situasi yang membuat seorang paling intelektual sekalipun akantend to forget something important.
Travelku membelah ruas jalan tol dalam kota, menyibak disela-sela kepadatan lalu lintas malam itu. Aku hanya bisa termangu saja menyaksikan kemacetan luar biasa yang seperti lumrah terjadi di Jakarta saban Jum'at. Rasa-rasanya semua orang tumpah ruwah di jalanan ingin secara berjamaah non antri non tenggang rasa non simpati saling berebut keluar Jakarta. Kalau sudah begini Jakarta-Bandung via Cipularang yang normalnya ditempuh 2 jam bisa molor hingga 3-4jam.
Perhatianku justru tertuju pada travelku ini. Rute Jakarta-Bandung sudah menjadi jalur sutra perekonomian Indonesia dewasa ini. Jalur ini bisa ditempuh dengan banyak macam moda transportasi. Kita kesampingkan dulu moda bus dan kereta, saya lebih tertarik mengamati moda shuttle service. Mungkin ada sebagian kita yang belum paham mengenai shuttle service, akan saya coba jelaskan dengan bebas ya, kurang lebih begini shuttle service adalah layanan jasa angkutan penumpang yang melayani perjalanan rute antar kota dengan inteval keberangkatan dari pool ke pool (mis: Jakarta-Bandung) Setiap jam (bahkan yang punya nama pakai simbol X, mengklaim keberangkatan setiap setengah jam sekali). Di daerah lain mungkin akan terlihat sama dengan travel, sekilas memang iya (sama-sama menggunakan jenis kendaraan L300 tapi ada juga yang pakai bus kecil), hanya saja shuttle service tidak menghantarkan kita sampai ketujuan kita (mis: rumah atau destinasi spesifik lain). Dia hanya dari pool ke pool. Hebatnya salah satu pelaku bisnis ini yang berafiliasi dengan white horse mengklaim jika penumpang hanya satu orang akan tetap berangkat. Saya tidak tahu persis siapa pemrakarsa shuttle service pertama untuk rute Jakarta-Bandung, tapi salah satu dari sekian nama yang cukup familiar ada inisial C dengan bisnis shuttle menggurita luar biasa.
Keadaan macet total di KM69 Tol Bekasi membuyarkan lamunanku mengenai shuttle service, kalau sudah begini memejamkan mata adalah opsi paling logis yang tersedia.
[...bersambung]
Bermandikan lampu neon 75 watt, saya memikirkan masa depan
06 Agustus 2010 - Slipi, Jakarta
Tidak banyak yang tersisa, hanya 1 lembar uang lima puluh ribuan saja di dompetku. Untung saja sudah akan masuk bulan puasa, artinya proporsi pengeluaran bisa aku tekan seminimal mungkin. Lebih-lebih aku butuh lebih banyak proporsi uang untuk membiayai perjalananku ke Bandung tanggal 9-10 Agustus 2010. Ya, kawan, aku sedang merencanakan mengikuti test tahap awal sebuah Perbankan BUMN yang rencananya akan dihelat di Bandung. Jujur saja terbesit rasa gamang harus menempuh jarak ratusan kilometer, dan belum ada kepastian apakah aku mampu melalui test tahap pertama ini dengan mulus. Apalagi biaya yang harus aku keluarkan juga tidak sedikit. Benar-benar sebuah "perjudian".Maka siang itu selepas jumat'an, aku berkeluh kesah sejadi-jadinya kepada Tuhanku. Tentang kesukaran, tentang pergulatan, tentang kehidupan yang makin lama makin tidak mudah.
Dalam doaku siang itu aku berkata " Laaqaulawalaquwwata illaabillah, tidak ada kuasa selain padaMu ya Rabb. Detik ini aku merendahkan diri dihadapMu, Duhai dzat yang Maha berkehendak, akan kemana aku ini akan Engkau arahkan? tempaan apalagi yang harus aku ikhlas belajar dari padanya? di kolong langitMu detik ini aku bersimpuh, di pintuMu aku mengetuk, pada kemurahanMu aku mengiba, aku tak dapat berpaling ya Rabb. Lapangkanlah jalan terjal di hadapanku, mudahkanlah segala urusanku, berikanlah aku kesempatan, meraih kehidupan yang lebih baik, demi Anak & Istriku kelak, Kabulkanlah ya Allah"..
08 Agustus 2010 - Tol Jakarta-Bandung
Awan hitam menyergap slipi seketika, bergulung-gulung dari timur menuju ke barat. Kelamnya memudarkan kilau matahari sore itu,gemuruhnya mengiringi keberangkatanku sore itu.
Shuttle service di kebun jeruk sudah mengkonfirmasi keberangkatanku pada pukul 19:30 WIB, sementara aku sedang asyik menyiapkan baju dan perlengkapan lain, printerku pun tak kalah sibuknya memuntahkan berlembar-lembar dokumen prasyarat test. Aku adalah termasuk bilangan orang yang cukup percaya dengan tagline "a well preparation is a good fondation of success". Aku gila persiapan, meskipun aku tidak bisa dibilang well-organised, namun im a good d*mn planner. Tabiat ini entah aku absorb dari siapa. Mungkin ibuku, ya, Ibu semestinya Master Planner.
Ini adalah foto yang menunjukkan persiapanku untuk menghadapi hari penting no 3 setelah urusan khitanan, yaitu hari sidang skripsi. Baju, jas almamater, celana hitam, dasi, semua sudah tergantung siap pakai tepat sehari sebelum ujian dimulai. Aku paling benci terburu-buru, situasi yang membuat seorang paling intelektual sekalipun akantend to forget something important. Travelku membelah ruas jalan tol dalam kota, menyibak disela-sela kepadatan lalu lintas malam itu. Aku hanya bisa termangu saja menyaksikan kemacetan luar biasa yang seperti lumrah terjadi di Jakarta saban Jum'at. Rasa-rasanya semua orang tumpah ruwah di jalanan ingin secara berjamaah non antri non tenggang rasa non simpati saling berebut keluar Jakarta. Kalau sudah begini Jakarta-Bandung via Cipularang yang normalnya ditempuh 2 jam bisa molor hingga 3-4jam.
Perhatianku justru tertuju pada travelku ini. Rute Jakarta-Bandung sudah menjadi jalur sutra perekonomian Indonesia dewasa ini. Jalur ini bisa ditempuh dengan banyak macam moda transportasi. Kita kesampingkan dulu moda bus dan kereta, saya lebih tertarik mengamati moda shuttle service. Mungkin ada sebagian kita yang belum paham mengenai shuttle service, akan saya coba jelaskan dengan bebas ya, kurang lebih begini shuttle service adalah layanan jasa angkutan penumpang yang melayani perjalanan rute antar kota dengan inteval keberangkatan dari pool ke pool (mis: Jakarta-Bandung) Setiap jam (bahkan yang punya nama pakai simbol X, mengklaim keberangkatan setiap setengah jam sekali). Di daerah lain mungkin akan terlihat sama dengan travel, sekilas memang iya (sama-sama menggunakan jenis kendaraan L300 tapi ada juga yang pakai bus kecil), hanya saja shuttle service tidak menghantarkan kita sampai ketujuan kita (mis: rumah atau destinasi spesifik lain). Dia hanya dari pool ke pool. Hebatnya salah satu pelaku bisnis ini yang berafiliasi dengan white horse mengklaim jika penumpang hanya satu orang akan tetap berangkat. Saya tidak tahu persis siapa pemrakarsa shuttle service pertama untuk rute Jakarta-Bandung, tapi salah satu dari sekian nama yang cukup familiar ada inisial C dengan bisnis shuttle menggurita luar biasa.
Keadaan macet total di KM69 Tol Bekasi membuyarkan lamunanku mengenai shuttle service, kalau sudah begini memejamkan mata adalah opsi paling logis yang tersedia.
[...bersambung]
Indahkanlah diri dan pribadimu, sebagai hadiah yang membahagiakan kekasih, keluarga, dan orang lain.
Tetapi jika mereka tak menghargai niat dan kebaikanmu, bersabarlah.
Sesungguhnya setiap jiwa hanya bertanggung-jawab atas dirinya sendiri.
Peliharalah keterhubungan hatimu dengan Tuhan, bahkan di dalam pengabaian dan perendahan oleh orang lain.
Engkau jiwa yang khusus bagi Tuhan. Bersabarlah.
Mario Teguh
Matahari menyeruak dari celah tirai tua yang menutupi celah dinding belakang kost. Mengeringkan tetes embun dan hujan kemarin sore. Sebagian sinarnya menyelusup masuk ke dalam kamarku di Slipi. Di timur langit biru terbuai, pertanda hari ini akan cerah luar biasa.
Berduyun-duyun pekerja berarak dari sudut-sudut kota Jakarta ibarat lebah mereka datang berkelompok, berpindah berkelompok, pulang berkelompok, ramai-ramai dan serentak, akibatnya saling tidak mau mengalah, berebut ingin segera sampai, akhirnya malah tumpah ruah, di jalan.
Berduyun-duyun pekerja berarak dari sudut-sudut kota Jakarta ibarat lebah mereka datang berkelompok, berpindah berkelompok, pulang berkelompok, ramai-ramai dan serentak, akibatnya saling tidak mau mengalah, berebut ingin segera sampai, akhirnya malah tumpah ruah, di jalan.
Aku lincah. Menjadi bagian dari "lebah-lebah" pekerja itu. Berayun disela-sela truk tronton. Berkelit dari Busway. Meskipun begitu sejatinya jantungku berdegup ekstra kencang. Salah perhitungan sedikit saja, nyawaku taruhannya.Pasar Minggu, Pasar Kebayoran Lama, Pasar Pagi, Pasar Klender, Pasar Palmerah, Pasar Cengkareng, Terminal Bandara, Stasiun Kota, Stasiun Gambir, Terminal Pulo Gadung, Bandar Asongan Grogol, Asongan Kramat Jati. Dari Ujung Barat Citra Garden hingga ujung timur Pasar Kranji. Dari ujung utara Terminal Tanjung Priok hingga paling selatan Pasar Lenteng Agung. Itu adalah daerah-daerah yang selama 8 bulan ini aku akrabi secara intens. Selama 8 bulan itu aku jalani semua ini dengan penghayatan penuh seluruh ala Andrea Bocelli dan Sarah Brightman dalam lagunya "time to say goodbye".
Aku selalu lincah tapi suatu hari aku berhenti. Sebuah cerita dari seorang kawan membuyarkan semuanya. Seketika aku berdoa "Ya Allah,aku mohon Engkau membukakan semuanya..semuanya ya Allah..aku ingin kejelasan". Sungguh Tuhan Maha Mendengar doa-doa kita. Tiba-tiba secara perlahan tapi pasti aku menemukan jawaban itu sendiri. Kenyataan tentang atasan yang tidak jujur, tidak amanah, rekan yang berkhianat, dan kebobrokan-kebobrokan lain. Aku tercekat. Duniaku limbung.
Beberapa hari terakhir aku tidak lagi lincah. Berhari-hari aku memikirkannya. Sungguh berat menjadi orang dewasa itu. Tidak lagi menggantungkan diri namun harus jadi mandiri. Saat inilah baru aku dapatkan kenyataan hidup no.1 : Sejak kau menginjak usia dua puluhan tahun, hidup tidak lagi mudah. Dan di sini, disebuah sisi kota Jakarta, aku terpengkur, terperangkap, menerawang...
Idealisme kerjaku berantakan,mimpi-mimpi serasa porak-poranda, aku memang bukan orang yang betul-betul bersih dari dosa, namun ketidakadilan dan kecurangan yang ada begitu nyata, tak terelakkan dan begitu telak menikam hati kecilku.
Aku sendiri dan kawanku yang menyaksikan, kecurangan di gudang, kecurangan di kantor, kepicikan, manipulasi dan mafia-mafia kecil dalam bisnis ini. Aku takut menjadi bagian dari mereka. Namun aku masih terus berada dalam lingkaran ini, mendengar pandangan mereka, melihat perilaku mereka, dan lambat laun menarik satu per satu seperti mereka.
Sekarang setiap kali team meeting dan membuai kami dengan "puisi-puisi indah", aku hanya menunduk, menghitung hari yang tersisa untuk hanya sekedar melakukan yang standar. Terkadang aku hanya merebahkan diri di serambi masjid dikala bedug dan menghabiskan waktu hingga petang menjelang. Masa mudaku yang berapi-api serasa padam. Kurva hidup yang terus menurun ke bawah menyeretku menjadi pribadi yang
stagnan.
Orang muda harus jatuh cinta sejatuh-jatuhnya, patah hati sepatah-patahnya, tertawa marah sedih rajin dan malas segila-gilanya,
tetapi,
...
dia harus segera bangkit, mendewasa, berdiri gagah, dengan bekas-bekas luka yang indah di wajah dan dada,
dan dengan anggun dan berwibawa,
dia berkata
Dengan kewenangan yang diberikan oleh Tuhan kepadaku,
dengarlah
AKULAH PENENTU KEBESARAN HIDUPKU SENDIRI.
Mario Teguh
Aku menunduk dalam ketika adzan jumat hari ini, sudut mataku basah menekuri lantunan suara sang muadzin. Betapa kecil eksistensiku di dunia ini. Betapa manusia maha tidak tahu segala hal. Betapa manusia hanya pelaku dan Tuhanlah yang menentukan jalannya sebuah cerita. Betapa mungkin sesungguhnya manusia tidaklah berkehendak, namun semuanya adalah kehendak-Nya. Betapa misteriusnya cara Allah membuka pikiranku, menyambung noktah-noktah kehidupanku, menuntunku mengumpulkan kepingan mozaik kehidupanku. Aku menjadi geram sekali. Pipiku telah basah. Anganku melayang kepada Ayah no.1 di dunia, Ibu yang penyayang, Adikku. Aku lalu melihat secercah sinar harapan diujung sana. Aku harus berlari menghampirinya. Pantang aku kemudian berpaling dari ikhtiar dan bersabar menjalani setiap episode-Nya. Aku harus berlari semakin kencang menangkap segala peluang. Bayangan keluarga kecilku ...anak dan istriku kelak..dalam syahdu jumat siangku kulantunkan doa titik balik kehidupanku. Bismillah ya Alloh
Sejak pertama kali aku melihatnya waktu itu aku telah jatuh hati padanya. Cinta pada pandangan pertama. Rasa-rasanya sudah lama kebahagiaan jatuh cinta lagiku terperangkap dalam sebuah peti yang terkunci mati. Seperti banyak orang katakan cinta itu datangnya tiba-tiba, tak diduga dan tak ternyana. Kedatangannya bagaikan copet mengambil dompet dari saku belakang penumpang kereta api.
Aku rasa umur dia masih 20an tahun sama sepertiku,sobat. Aku tahu itu dari gaya berpakaian yang dikenakan malam itu di Semanggi. kulitnya tidak lebih hitam dari aku, kacamata yang dia kenakan menegaskan dia banyak menghabiskan waktu dengan membaca dan dari kerudung yang dia kenakan aku tahu dia seorang muslim.
Demi Tuhan tidak ada tegur sapa maupun kata yang terlontar saat kami berjumpa. walaupun jarak kami hanya tidak lebih dari 3hasta namun kami hanya berdiam diri. Sepertinya diapun tidak menyadari aku mengamati gerak geriknya sedari tadi. Sayangnya aku bukan Cassanova, kawan, tidak ada malam itu aku membuatnya terkesan. hanya sekedar berkenalan langsung pun aku segan.
Malam turun di Slipi seperti hanya untukku. Pertemuan dengan dirinya laksana mencekam diriku dalam kegundahan, agak sulit bagiku untuk sekedar terlelap. Rasa penasaran menyiksaku detik demi detik. tak habis-habisnya aku mengutuki diriku, kalau saja aku tadi memberanikan diri untuk berkenalan langsung dengannya. Pelajaran moral no.1 jangan pernah sia-siakan peluang didepan mata atau menyesal kemudian.
Aku rasa umur dia masih 20an tahun sama sepertiku,sobat. Aku tahu itu dari gaya berpakaian yang dikenakan malam itu di Semanggi. kulitnya tidak lebih hitam dari aku, kacamata yang dia kenakan menegaskan dia banyak menghabiskan waktu dengan membaca dan dari kerudung yang dia kenakan aku tahu dia seorang muslim.
Demi Tuhan tidak ada tegur sapa maupun kata yang terlontar saat kami berjumpa. walaupun jarak kami hanya tidak lebih dari 3hasta namun kami hanya berdiam diri. Sepertinya diapun tidak menyadari aku mengamati gerak geriknya sedari tadi. Sayangnya aku bukan Cassanova, kawan, tidak ada malam itu aku membuatnya terkesan. hanya sekedar berkenalan langsung pun aku segan.
Malam turun di Slipi seperti hanya untukku. Pertemuan dengan dirinya laksana mencekam diriku dalam kegundahan, agak sulit bagiku untuk sekedar terlelap. Rasa penasaran menyiksaku detik demi detik. tak habis-habisnya aku mengutuki diriku, kalau saja aku tadi memberanikan diri untuk berkenalan langsung dengannya. Pelajaran moral no.1 jangan pernah sia-siakan peluang didepan mata atau menyesal kemudian.
Ibuku adalah center of universe di keluargaku,pemegang hak mutlak veto, menteri keuangan, legislatif, head of budgeting, psikiater kawakan, tabib gigi, feodalis, demokrasi terpimpin dan lebih keren lagi Ibuku adalah seorang taurus. Ada cerita menarik seputar per-tabib-an, ketika aku masih SD, jika Ibu mendapati ada salah satu gigi bungsuku yang sudah goyang,maka Ibu akan mengambil seutas benang dan disimpulkan mengelilingi gigi itu. Kalau sudah begitu,aku hanya akan dapat mengerang menahan sakit dan berharap proses pencabutan ini berjalan laksana dompet yang hilang dicopet,cepat dan seketika. Ibu lihai dalam mencabut gigi dengan menggunakan benang,bahkan jika dokter gigi butuh beberapa suntikan bius maka Ibuku cukup dengan kalimat basmalah. Tarik kanan tarik kiri, gigi dengan akar paling kuat sekalipun akan tumbang di tangan Ibuku. Hebatnya lagi,jika gigi sudah tercerabut, meskipun aku ngilu bukan buatan, tapi aku bangga bisa melempar gigi bungsu bagian bawah ke atap genteng rumahku. Ritual ini aku telan mentah-mentah saja dari nenek moyang jawa,katanya supaya gigi penggantinya bisa tumbuh kuat.
Ibu adalah salah satu pilar pemerintahan dikeluargaku,Ibuku cukup bertangan besi,Ibu begitu saklek dalam menjalankan apa yang menurut Ibuku benar. dan jika kami,anak-anaknya,membangkang,maka Ibuku akan menceramahiku panjang kali lebar. Cara ini,meskipun sekeras jaman kremlin di Rusia, namun terbukti efektif untuk mendidik kami, anak jaman gaban, untuk displin dan patuh.
Ibu pandai memasak dan seorang pekerja keras. Ibu mampu menyeimbangkan antara karir dan keluarga, meskipun berangkat pagi, Ibu tak lupa menyiapkan sarapan sejak subuh. dan ketika petang menjelang, jika Ibu sudah pulang dari kantor, setelah shalat azhar maka Ibu akan mempersiapkan hidangan makan malam. Dan itu belum termasuk jika ada hajatan di rumah, maka jauh-jauh hari Ibu akan mencicil memasak, Ibu sangat suka memasak sendiri makanan daripada jajan. Ibuku ini sepertinya tidak punya urat capek, jika tidak memasak maka Ibu akan membersihkan rumah,berkebun, atau mencuci pakaian. Justru yang aku heran,Ibu akan terlihat lemas dan tidak bersemangat jika tidak sIbuk dengan kegiatan di rumah, namun jika sudah malam menjelang dan Ibu kelelahan beraktivitas seharian, maka bergantian Ibu panggil anaknya satu persatu, pijit.
Pada suatu siang di bulan Maret 2010 saat aku masih sibuk membanting tulang di Ibukota,begitu sibuknya sampai sampai rasanya aku sudah lupa telah hampir 6bulan aku belum pernah pulang ke Malang. Ditengah jadwal yang padat dan stress yang mulai menerkam, handphone ku berdering. Sebuah pesan singkat dari Ibuku membuyarkan konsentrasiku. isinya sederhana dan tidak terlalu panjang, "Dik,Mama doain kamu sukses slalu. Mama kangen kamu pulang". Serentak badanku disergap rasa rindu dan haru yang menggelegak. Dengan mata berkaca-kaca aku pun keluar dari kantor dan mencari tempat yang tenang. "aku pun rindu padamu Bu,bersabarlah, takkan lama lagi anakmu akan pulang" bisikku dalam hati.
Ibuku sayang yang selalu rajin tahajud dan puasa demi anak-anaknya, yang selalu penuh kasih sayang. Ibu yang tak pernah lupa berdoa untuk anaknya dirantau, tak mampuku membalas semuanya Bu...
Footnote :
1) Foto almarhum soeharto dicuplik tanpa permisi dari sini
2. Semenjak memutuskan berkrudung medio tahun 2003-an, ibu sudah tak lagi menganut gaya kremlin maupun gaya mussolini, tapi gaya orde baru :)
3). Bulan depan Ibu Ulang Tahun dan aku ada kado spesial buat beliau, ahh kangen nian ambo ni :)
definisi kata ini menurut thefreedictionary.com adalah
“ A man who is employed to sell merchandise in store or in designated territory”
Definisi yang sempit..tapi ya sudah lah mari tidak kita ributkan :)
Menjadi tenaga penjualan atau yg akrab di telinga masyarakat sebagai salesman jelas bukan profesi idaman para calon mertua yang notabene pada mengidamkan punya menantu pegawai pajak. Sehingga aku mengutuk keras aksi Gayus Tambunan yang pake nilap pajak 25 Miliar, coba 1 juta atau dua juta aja, kan gak rame urusannya, serakah sih!
Ingin Punya Sapi
Kalau dirunut hingga buyutku di gunungkidul sana,hampir semuanya lulusan akademi dagang. bapaknya bapak dari embahku adalah petani merangkap pedagang sembako,bapaknya embahku adalah penjual kue kacang (dibuat dari campuran gula merah dibentuk bulat ditaburi kacang sangrai),embahku adalah penjual alat-alat besi (ibunya Obama pernah mewawancara Mbahku ini untuk tesisnya), anaknya mbah sales mobil, mantunya mbah jadi sales tumbuhan dan ayahku adalah sales kredit. jadi secara de facto, sales adalah profesi yg cukup mendarah daging di keluarga besarku. Namun ketika melihat Ronaldo beraksi aku ingin menjadi pemain bola, tapi usia sudah kepala dua, melihat Baim, aku ingin menjadi artis sinetron kejar tayang, kencing saja Baim belum lurus sudah beli mobil, melihat Ona Sutra, aku ingin menjadi penyanyi, namun jenis suaraku terlalu polos, tidak ada cengkoknya kata orang, dan ketika aku melihat Pak Tani di sawah depan rumah, muncul cita-cita sederhana tapi penuh makna, aku ingin punya sapi.
Di usia 21 tahun, aku masih belum tahu ingin jadi apa. Sudah beberapa profesi selama menjalani masa kuliah aku lakoni hanya demi mendapatkan gambaran pekerjaan yang aku inginkan. Karir profesionalku di mulai di counter McD Sarinah Malang tahun 2004. Terinspirasi para bule-bule yang suka ambil magang atau part-time di amrik sono, aku melamar sebagai part-timer McD. Setelah melalui beberapa kali wawancara dan seleksi, dari 30-an orang aku termasuk 3 orang yang direkrut. Tugasku sebagai anak baru cukup sederhana memastikan bahwa semua sisi counter McD bersih dan selalu rapi. Dengan memakai baju putih lengan panjang dan celana kain hitam, aku mengepel pelataran pintu masuk, mengelap kaca counter, membersihkan meja, melakukan apa saja asal selalu terlihat sibuk. Satu yang aku suka dari karir pertamaku ini, yakni ketika makan siang tiba. Tentu saja tak lain dan tak bukan adalah lezatnya sajian gratis menu McD dan boleh ditambah es krim pula. Setelah dua minggu aku mengabdi pada “Ronald”, setelah sempat naik kelas ke area penggorengan, aku pun menyerah karena kuliahku berantakan. Aku kemudian merintis bisnis bersama beberapa teman satu angkatan untuk memulai profesi baru sebagai penjual teh botol dan bunga pada saat wisuda Brawijaya berlangsung. Profesi yang satu ini bisa dibilang masih berkorelasi erat dengan pekerjaanku saat ini. Dengan bermodal suara yang lantang, dan sikap pantang kendur, aku dan kawan-kawan menyeruak ditengah hiruk pikuk Sarjanawan dan Sarjanawati, Keluargawan dan keluargawati. “Bu, bunganya Bu, masih segar” “ Mas, bunganya Mas untuk Mbaknya”. Aku lupa kenapa ya profesi yang cukup menjanjikan ini akhirnya bubar jalan. Setelah menjadi sales kembang dan teh botol, pada suatu siang seorang dosen Teknik Brawijaya memberikan info bahwa Brawijaya membutuhkan mahasiswa-mahasiswa setengah nganggur setengah sibuk (semester akhir tapi belum lulus) untuk direkrut tim pemantau ujian independen. To be honest sodara-sodara, ini adalah quantum leap bagi perjalanan karir aku, dari sekedar kuli cuci dan pel Paman Sam, beranjak jadi sales kembang dan saat ini direkrut menjadi juru pantau ujian, wahhh! Karir yang menanjak bukan?
Juru Pantauku Sayang, Juru Pantauku dari Malang
Matahari masih belum sepenuhnya bangun dari tidurnya, Malang masih gelap gulita, dan aku sudah sejak jam 4 pagi terjaga. Bagaimana tidak?! Ini adalah hari pertama dari tiga hariku menjadi juru pantau ujian independen. Sebuah jabatan yang prestisius! Mengenakan hem dan celana kain bersepatu hitam mengkilat dan berkalungkan kartu identitas pemantau ujian, aku berangkat menuju Pakisaji, sebuah kecamatan sekitar 30km dari rumahku. Disebuah Madrasah aku memantau jalannya ujian nasional disana. Ada sebuah rutinitas yang membuat aku bangga menjadi juru pantau, setiap pagi anak-anak madrasah dikumpulkan oleh kepala sekolahnya dan kemudian satu persatu mereka mengular untuk antri mencium tangan Bapak-Ibu guru dan tentu saja Bapak Juru Pantau Ujian Independen..hehe..Setelah selesai melakukan pemantauan dan menyaksikan kotak naskah soal dan jawaban dibawa oleh polisi dan kepala sekolah untu dikumpulkan, aku dan segenap juru pantau mengerjakan form evaluasi hasil pemantauan independen,untuk kemudian dilaporkan kepada ketua tim independen. Untuk 3 hari yang melelahkan, dan sekitar lebih dari 200 km akumulasi jarak yang ditempuh dengan motor bolak-balik, kami, juru pantau independen, antri untuk mengambil upah di rektorat Brawijaya. Bayaranku tiga ratus lima puluh ribu rupiah.
Menjadi Sales, Terjebak atau sebuah pilihan
ketika euphoria sebagai juru pantau usai seiring dengan berakhirnya ujian nasional tingkat SMP di Malang, aku kembali menjadi mahasiswa biasa. Biasa di perpus, biasa di kantin dan biasanya sih ngegame di rumah. Bosan dengan status mahasiswa biasa, aku melamar menjadi pegawai magang di PT. Nestle Indonesia Kejayan Pasuruan. Setelah beberapa kali riwa-riwi Malang-Pasuruan dan interview, aku akhirnya resmi magang di departemen Quality Assurance selama 6 bulan. Bekerja di perusahaan multinasional benar-benar memberikan pengalaman berharga. Di sana aku belajar kerjasama dan kerja paksa juga. Namun ternyata bekerja didalam pabrik dan doing the same old routine adalah bukan gue banget :D
Sembari memasukkan lamaran dan menunggu panggilan test, aku bergabung dengan tim review PNPM Mandiri kelurahan Tlogomas Malang, tugasnya adalah melakukan review kelembagaan, review progam dan sedikit audit masalah keuangan. Selama bertugas aku mulai memikirkan kembali masa depanku, sebuah pertanyaan besar menghadang, mau jadi apa gerangan? Kekhawatiranku yang paling besar adalah aku sebenarnya tidak terlalu kompeten dengan bidang-bidang Teknologi Industri Pertanian, malahan skripsiku membicarakan mengenai System Pakar Evaluasi Kelayakan Kredit Usaha Kecil. Bisa dibilang muatan TIP-nya sangat sedikit. Jadi rada minder juga kalau memang harus bersaing dan adu pengetahuan tentang TIP-TIP-an. Makanya profesi andalan jebolan TIP yakni di bagian quality assurance, production plan, dan semacamnya aku coret dari list pekerjaan idaman. Aku menginginkan pekerjaan yang membawaku menemui banyak orang, mengunjungi banyak wilayah, dan belajar bagaimana bersosialisasi dengan orang lain. Aku juga menginginkan pekerjaan yang tidak memperdulikan basis jurusan ketika kuliah, aku ingin pekerjaan yang tidak menyaratkan IPK 3.5.
Sampai saat ini aku tetap sepakat dengan cara pandang Steve Jobbs “life is like connecting the dots”, masalah terjebak atau sebuah pilihan, mungkin tidak perlu terlalu dipermasalahkan. Sepuluh tahun dari sekarang, ketika aku melihat kebelakang terhadap semua perjalanan yang telah aku lalui,aku yakin kesuksesan dibangun dari saat itu. Semua merupakan proses panjang dan berliku, hanya tinggal mampukah kita memaknai dan mengambil hikmah dari setiap pilihan dan jalan yang kita tempuh.
Footnote :
1). Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, setelah 6 bulan puasa menulis, pada malam ini satu lagi tulisan bisa penulis hadirkan ke tengah-tengah hadirin pembaca blog setia. Semuga bermanfaat (emang ada ya?!ke-pe-de-an :p )
2). Penulis masih merupakan sales amatir karbitan dengan catatan penjualan tertinggi masih diangka 280 juta dalam sekali transaksi.
3). Ditulis sambil mendengarkan lagu “Selir Hati –Ahmad Dhani”
4). Pada saat menjadi kuli pel dan cuci McD, penulis pernah dipergoki tetangganya, dan lumayan nano-nano rasanya, malu tapi bangga, miris tapi Pede.
5). Mensuggest anda semua untuk “jangan khawatir dengan menjadi apa sekarang, tapi mau jadi apa nanti” dan “percayalah Tuhan itu tahu tapi menunggu, menunggu kita untuk dengan segenap upaya dan daya mewujudkan impian kita”
6). Mbah Sastro, adalah pemilik Pande Besi di Desa Kajar GunungKidul dan pernah beberapa kali diwawancara oleh stasiun TV terkait Ibunya Obama yang pernah melakukan penelitian disana. Baca disini
7). Posting Asli di sini

Facedown in Thamrin Street last night, with one and zeros. A Man's Dream is about to collapse just now. I couldn't have a better word to explain my feeling somehow. I was supposed to be happy, a breakthrough, a headlight, but i didn't. I was left there pretty confused.
Sitting in the end of sideways while waiting for 640's bus, it was a perfect hideaways. I'm sitting there with a bunch of question.
I might came out with a wrong conclusion, a miss perception, well i'm just out to find the other part of me.
For those night, i'll be forever gratefull, if this all ended tomorrow, i might be (still) forever gratefull
Sitting in the end of sideways while waiting for 640's bus, it was a perfect hideaways. I'm sitting there with a bunch of question.
"Did i never told you ? that my heart beat faster when i'm with you, i feel happy when i'm with you ?" But i found words failed to describe how much i forever gratefull for your welcoming gratitude. Those were the best night i ever had.
I might came out with a wrong conclusion, a miss perception, well i'm just out to find the other part of me.
i've tried my best and i'm just unsucceed
i don't get what i want nor what i need
it may go to waste ?!
but if i never tried i never know
to be honest it's really worth trying..
For those night, i'll be forever gratefull, if this all ended tomorrow, i might be (still) forever gratefull

Sekitar dua minggu ini cukup banyak mesej di hape, email, facebook, yang hampir kesemuanya menanyakan
" kerja apa sih di Jakarta ?"
Divisi Sales dan Marketing (S&M) saya garansi sudah familiar dikenal oleh khalayak ramai. Bahkan jika dirunut hingga ribuan tahun ke belakang setahu saya Nabi Muhammad juga merupakan seorang salesman handal (baca:Fathonah alias Yang dapat Dipercaya). Dalam struktur besar sebuah Industri Manufaktur maupun Consumer Goods, maka divisi Sales dan marketing adalah jembatan antara Pabrik dengan Konsumen. Para pekerja di divisi Sales dan Marketinglah yang membuat fruitella bisa diemut anak-anak SD selagi istirahat di kantin, Happydent bisa memutihkan gigi para supir taksi yang gak semept gosok gigi, dan Chox yang turut andil menyelamatkan nyawa seorang Ibu Muda yang mual terus gak bisa kemasukan makanan selain coklat dan Mentos Xtra-energy ada disaku eksekutif-eksekutif muda di kantor-kantor bertingkat tujuh belas.
Begitu vitalnya peranan seorang Sales sampai-sampai ketika aku mendapat kesempatan berkunjung ke Pabrik di daerah Cibinong, kami ( anak-anak S&M) disambut bak sekumpulan prajurit habis pulang bertempur minus taburan bunga dan tarian hula-hula. Dengan penuh berapi-api bos divisi produksi menjelaskan detail pemrosesan dan bagaimana alur sebuah permen bisa jadi manis asem asin (ehhh kompetitor neh haha), divisi Logistik menyakinkan siap mem-back-up segala permintaan kami di lapang baik kiriman laut maupun darat. Dan terakhir sebelum kami balik ke Jakarta, kepala Quality Control menjabat erat tangan kami satu-persatu sambil berucap
" Jualan yang kenceng ya Pak, Semakin banyak Bapak jualan biar ampe kami harus lembur juga kami malah senang "
Jujur saja kata-kata ini begitu membuat saya tersentak, saya bertanya-tanya apa sih yang mereka lihat dari kami tim S&M? Pertanyaan ini kemudian terjawa ketika saya memiliki kesempatan bertanya kepada Sales Director di Jakarta.
" Jelas saja mereka begitu mengapresiasi Bapak-Bapak sekaliyan. Bagaimana tidak ?! Sadarkah Bapak di tangan kita para Sales-lah roda pabrik dapat terus berputar, ditangan kita inilah para karyawan Pabrik menggantungkan cita-cita anak-anaknya, dengan perjuangan kita para Akunting bisa menikmati cashflow, apalah artinya perusahaan excellent di produksi tanpa ditunjang penetrasi prima dari S&M-nya ? paling-paling barang cuma numpuk di gudang. Kita ini garda depan perusahaan, hidup-matinya karyawan dan perusahaan ada ditangan Bapak-Bapak Sekaliyan !!"
Kata-kata ini begitu menyentak dan mencubit alam bawah sadarku saat itu, anganku melayang kepada kebangkrutan Fuji Film yang berujung pada pemecatan 3000-an karyawannya, British American Tobacco Indonesia yang dari Manager ke bawahan dibabat abis (beberapa area sales-nya jadi satu angkatan denganku di PVMI). Aku yang awalnya masih belum begitu termotivasi dan under-estimated dengan pekerjaan ini tiba-tiba merasakan gelora semangat yang membuncah.
Setiap bangun pagi dan mulai mengawali hari aku mulai dengan doa kecilku kepada Sang Khalik.
" Ya Alloh, aku pasrahkan penjualan hari ini kepadaMu, di penjualan inilah urat nadi dan denyut perusahaan, di ujung-ujungnya mungkin bergantung harapan anak yang menginginkan sepeda baru, pelajar yang masih menuntut ilmu, dan mahasiswa yang berharap kelulusan dan Ibu yang ingin membeli bayinya susu"
Sebagai seorang Sales Supervisor (SS), oleh superiorku (ASS), aku diberi kewajiban melakukan pemantauan distribusi, pencapaian omzet dan memimpin team salesman. Prinispnya "dimana ada 10 permen di sebuah toko maka 7 macamnya adalah produk PVMI". kegiatan rutin yang aku lakukan adalah melakukan kontrol terhadap stok digudang (jangan sampai d bawa buffer), kontrol penjualan oleh saesman, kontrol ketersediaan dan ketersebaran produk, Seorang SS juga dituntut siap ditempatkan disegala macam area maupun wilayah. Jika harus mengunjungi suatu wilayah atau area maka ASS cuma akan memberikan alamat maupun area tujuan, SS-lah yang harus membuka peta, mencari info jalan tercepat, terus langsung turun ke area tersebut. Tidak boleh SS mengatakan tidak tahu, prinsipnya mending kesasar dijalan 1000 kali daripada tanya ke bos 1 kali. Oya, Bos juga gak ambil pusing kamu orang daerah situ apaorang luar daerah, makanya itu peta Jakarta buat aku mutlak perlu. Biarpun baru 2 minggu aku di jakarta tapi insyaAllah rute-rute jalan di Jakarta sudah 50% paham.
Oya satu lagi, Sales Supervisor itu ngantornya di kolong langit, bisa di warnet, bisa di area wi-fi bisa juga di masjid.
Keluar masuk pasar, toko-toko kelontong pinggir jalan, ampek kantor distributor adalah tempat-tempat yang sering dikunjungi. Bukan jenis pekerjaan kerah putih berdasi yang adem dibawah terpaan AC dan pancaran radiasi komputer, tapi bergumul dengan copet dan preman brengsek pasar Kramat Djati, senggol-senggolan dengan pedagang Ikan Teri yang sudah lama lupa mandi.
Jadi ingat kembali cita-cita jadi orang kantoran, berdasi, hem lengan panjang dan sepatu pantopel semir tebal, haha :)
Tapi aku suka sales, selain dikasi motor buat operasional, semua pengeluaran yang terkait deal-deal dan urusan kantor semua bisa diklaim ke kantor (include: makan, komunikasi, bensin, internet, parkir, servis motor dan stationery). Denger-denger kalo diangkat jad Area Sales Supervisor (ASS) dapat mobil,,wahh semangat..semangat :D Jangan risau ama target deh, menurutku secara default manusia semua sudah terbiasa dengan target koq, malah itulah yang bikin hidup lebih hidup.
Okay, thats for today,folks
Semuga hari-harimu kedepan sesegar Mentos, selembut Fruitella, semanis Alpenliebe, sesejuk Golia dan Warna-warni seindah Marbels (^^)v

Sejujurnya tak pernah sekalipun aku berharap mengadu nasib di Jakrta. Hanya saja, kawan, kau tahu sendirilah di Malang tak banyak instansi maupun perusahaan yang membutuhkan gelar sarjanaku. pernah di penghabisan Oktober waktu itu sebuah perusahaan yang bergerak di bidang departement store menawari-ku posisi sebagai supervisor. Bukan hanya gaji yang ditawarkan begutu murahnya namun juga risih sekali rasanya setiap hari harus melihat anak buah memakai rokmini dan stoking hitam. Sudah digaji kecil takcukup pula untuk sekedar menyambung hidup pun harus menanggung dosa mata sehari-hari.
Selepas Gambir, mataku tak henti-hentinya terbelalak melihat taxi Blue Bird tumpanganku membelah segitiga emas Jakarta. Hatiku berdesir ketika melewati Semanggi yang kondang di layar televisi itu, Gedung, Mal, Plaza yang menjulang tinggi membuatku merasa begitu kecil. Ada rasa haru ada rasa bangga ada rasa bingung, sedih dan gundah menyergap ke dalam dada, apa nasib orang daerah sepertiku di kota megapolitan yang trantibnya terkenal galak bukan buatan ini.
Hari Sabtu, 28 November 2009 nasibku ditentukan, ini adalah hari dimana bosa dari segala bos sales dan marketing atau biasa disebut sales director mengumumkan lokasi penempatan bagi kami sales supervisor baru. Asal kalian tahu kawan, 1 jam sebelum ini kami harus menandatangani surat bersedia di tempat kan diseluruh Indonesia. Doaku hanya satu jangan atambua ya Alloh! Satu persau nama kami di sebut, ada yang ditempatkan di Medan, Samarinda, Balikpapan, Yogya, Bandung dan Cirebon.. MasyaAlloh aku ditempatkan di Jakarta.
Malam harinya aku berembug dengan keluarga Tanteku di Cibinong tentang lokasi kost.
Kalibata terkenal dengan keberadaan taman makam pahlawannya. Daerah Kalibat dekat dengan Pasar Minggu, jika jam berangkat dan pulang kantor ruwetnya lalu lintas daerah ini tak beda jauh kusutnya dengan rambut paman Einstein. Tapi jujur saja, Aya Ida tepat memberiku kost di daerah ini, kalibat strategis bukan main, ke warnet dari kost-an jalan sambil merem juga sampe', ke ATM BRI cuma sepelemparan batu sejauh 500 meter saja, warung makan juga tersebar siap membelaiperut-perut pekerja yang kelaperan, dan yang fantastis dari Psr. Minggu metromini bisa kemana saja dan murah meriah.
Jika aku menuju Kalibata Timur, aku jumpai waung nasi uduk yang nasi dan penjualnya sama-sama gurihnya. harga seporsi ayam goreng dan nasi uduk juga gak bikin kantong bolong, cuma kempes ajah, hehe.. Jika jemu dengan per-uduk-an, aku cukup banting setir ke arah barat, nasi goreng Walisongo siap menggoyang lidah kita, kawan. Cukup berbekal tujuh ribu US rupiah maka para wali dengan sepenuh hai menggorengkan untuk kita.
Jika Pagi menjelang (saat belum dikasih motor), aku berjalan kurang lebih 50 meter menuju halte empang tiga. halte empang tiga berdiri diatas jalan raya pasar minggu, sekitar 2 kilometer dari tugu pancoran arah selatan. Di jalan ini setiap pagi menjelma menjadi lautan segala kendaraan mulai gerobak bubur ayam, kendaraan roda dua, tiga, empat, enam, bahkan delapan!
Salah satu ikan yang paling agresif yang hidup di lautan ini adalah spesies berwarna orange dan biru dengan plang "metromini". Makhluk ini jika sudah macet parah bisa melakukan manuver slalom putar kiri, banting kanan, sedikit saja meleng (lengah) ketika berkendara bisa disruduk keganasan biota satu ini. Aku beritahu,kawan, hidup di Jakarta sebenarnya aman dan nyaman asalkan jangan berurusan dengan salah satu dari dua jenis makhluk yakni supir metromini dan supir bajaj.
Metromini adalah kendaraan yang seharusnya masuk musim transportasi Indonesia (bukannya masih beroperasi seperti saat ini). kalau dilihat dari kebulan asap pekat hitam beracun dan bodinya yang jauh dari kata mulus maka sudah barang tentu kalian sepakat denganku bahwa metromini bukan moda transportasi kelahiran tahun 1990 (dia eksis sudah lebih lama dari itu). Metromini berisiknya bukan main, jika melalui jalan yang tidak rata, maka kac-kacanya semua bergeletak seperti mau lompat dari lis-nya. Dari kolong tempat kita duduk jika beruntung kita bisa melihat badan jalan yang sedang kita lewati (baca : lubang). Dan yang sebenarnya kurang disadari para penumpangnya, atau mungkin mereka tahu tapi tidak mau tahu, adalah ancaman tetanus dari besi-besi berkarat yang mendominasi sebagian besar badan metromini. Meskipun keadaan sudah jauh dari sekedar baik, namun pengguna jasa metromini cukup bervariasi, mulai dari eksekutif muda yang bersetelan rapi menenteng tas laptop hingga pembantu rumah angga menor yang baru saja belanja untuk kebutuhan majikannya.
Setiap pagi tua dan muda membanjiri, menyemut diantara ruas-ruas jalan ibukota, terhisap ke dalam busway, berjejal di dalam metromini. Begitu seterusnya setiap hari demi sesuap nasi. Di jalan di Jakartajarak lima kilometer seperti ditempuh setengah hari di jam sibuk. Tidak heran muncul idiom "Orang Jakarta Tua Di Jalan" menuai pembenaran. Oh Jakarta Oh Jakarta....
Di kereta Argo Anggrek jurusan Jakarta aku menerawang memikirkan cita-cita 1 istri 3 anak-ku, di kerta sebelah Pak Tua Eksekutif hatiku menggigil memikirkan hiruk pikuk kota Jakarta.
Selepas Gambir, mataku tak henti-hentinya terbelalak melihat taxi Blue Bird tumpanganku membelah segitiga emas Jakarta. Hatiku berdesir ketika melewati Semanggi yang kondang di layar televisi itu, Gedung, Mal, Plaza yang menjulang tinggi membuatku merasa begitu kecil. Ada rasa haru ada rasa bangga ada rasa bingung, sedih dan gundah menyergap ke dalam dada, apa nasib orang daerah sepertiku di kota megapolitan yang trantibnya terkenal galak bukan buatan ini.
Hari Sabtu, 28 November 2009 nasibku ditentukan, ini adalah hari dimana bosa dari segala bos sales dan marketing atau biasa disebut sales director mengumumkan lokasi penempatan bagi kami sales supervisor baru. Asal kalian tahu kawan, 1 jam sebelum ini kami harus menandatangani surat bersedia di tempat kan diseluruh Indonesia. Doaku hanya satu jangan atambua ya Alloh! Satu persau nama kami di sebut, ada yang ditempatkan di Medan, Samarinda, Balikpapan, Yogya, Bandung dan Cirebon.. MasyaAlloh aku ditempatkan di Jakarta.
Malam harinya aku berembug dengan keluarga Tanteku di Cibinong tentang lokasi kost.
"Coba tanya Aya Ida, siapa tahu ada kenalan yang pernah nge-kost di daerah tebet !" kata Tante Tanti padaku.
"Aku coba hubungi kawanku dulu ya siapa tahu ada tempat kost di daerah MT. Haryono" kata Aya Ida (Aya-panggilan tante dalam bahasa Sumbawa).
"Kau jangan kost didaerah Tebet atau Cawang terlalu berbahaya" sambung Aya Ida.
" Aku coba lihatkan di daera Kalibata, disana tempatnya jauh lebih aman ".
Kalibata terkenal dengan keberadaan taman makam pahlawannya. Daerah Kalibat dekat dengan Pasar Minggu, jika jam berangkat dan pulang kantor ruwetnya lalu lintas daerah ini tak beda jauh kusutnya dengan rambut paman Einstein. Tapi jujur saja, Aya Ida tepat memberiku kost di daerah ini, kalibat strategis bukan main, ke warnet dari kost-an jalan sambil merem juga sampe', ke ATM BRI cuma sepelemparan batu sejauh 500 meter saja, warung makan juga tersebar siap membelaiperut-perut pekerja yang kelaperan, dan yang fantastis dari Psr. Minggu metromini bisa kemana saja dan murah meriah.
Jika aku menuju Kalibata Timur, aku jumpai waung nasi uduk yang nasi dan penjualnya sama-sama gurihnya. harga seporsi ayam goreng dan nasi uduk juga gak bikin kantong bolong, cuma kempes ajah, hehe.. Jika jemu dengan per-uduk-an, aku cukup banting setir ke arah barat, nasi goreng Walisongo siap menggoyang lidah kita, kawan. Cukup berbekal tujuh ribu US rupiah maka para wali dengan sepenuh hai menggorengkan untuk kita.
Jika Pagi menjelang (saat belum dikasih motor), aku berjalan kurang lebih 50 meter menuju halte empang tiga. halte empang tiga berdiri diatas jalan raya pasar minggu, sekitar 2 kilometer dari tugu pancoran arah selatan. Di jalan ini setiap pagi menjelma menjadi lautan segala kendaraan mulai gerobak bubur ayam, kendaraan roda dua, tiga, empat, enam, bahkan delapan!
Salah satu ikan yang paling agresif yang hidup di lautan ini adalah spesies berwarna orange dan biru dengan plang "metromini". Makhluk ini jika sudah macet parah bisa melakukan manuver slalom putar kiri, banting kanan, sedikit saja meleng (lengah) ketika berkendara bisa disruduk keganasan biota satu ini. Aku beritahu,kawan, hidup di Jakarta sebenarnya aman dan nyaman asalkan jangan berurusan dengan salah satu dari dua jenis makhluk yakni supir metromini dan supir bajaj.Metromini adalah kendaraan yang seharusnya masuk musim transportasi Indonesia (bukannya masih beroperasi seperti saat ini). kalau dilihat dari kebulan asap pekat hitam beracun dan bodinya yang jauh dari kata mulus maka sudah barang tentu kalian sepakat denganku bahwa metromini bukan moda transportasi kelahiran tahun 1990 (dia eksis sudah lebih lama dari itu). Metromini berisiknya bukan main, jika melalui jalan yang tidak rata, maka kac-kacanya semua bergeletak seperti mau lompat dari lis-nya. Dari kolong tempat kita duduk jika beruntung kita bisa melihat badan jalan yang sedang kita lewati (baca : lubang). Dan yang sebenarnya kurang disadari para penumpangnya, atau mungkin mereka tahu tapi tidak mau tahu, adalah ancaman tetanus dari besi-besi berkarat yang mendominasi sebagian besar badan metromini. Meskipun keadaan sudah jauh dari sekedar baik, namun pengguna jasa metromini cukup bervariasi, mulai dari eksekutif muda yang bersetelan rapi menenteng tas laptop hingga pembantu rumah angga menor yang baru saja belanja untuk kebutuhan majikannya.
Setiap pagi tua dan muda membanjiri, menyemut diantara ruas-ruas jalan ibukota, terhisap ke dalam busway, berjejal di dalam metromini. Begitu seterusnya setiap hari demi sesuap nasi. Di jalan di Jakartajarak lima kilometer seperti ditempuh setengah hari di jam sibuk. Tidak heran muncul idiom "Orang Jakarta Tua Di Jalan" menuai pembenaran. Oh Jakarta Oh Jakarta....
Jumat, 20 November 2009
The Diary
1 Comments
Kerja -->0 km, Nikah -->1000km, Nyium Hajjar Aswad --> 10000000km

Bahkan sebuah perjalanan 1000 km jauhnya selalu diawali dengan langkah pertama yang kecil dan langkah itu dilakukan sekarang..saat ini ! (Malang, 20 November 2009)
Belum pernah aku lama-lama memandang lekat-lekat sawah yang terhampar luas di depan jendela kamarku, aku juga tertegun lama ketika memandangi pasar Dinoyo, pasar kumuh bau dan kuno yang biasa aku jadikan patokan buat teman-teman yang kebingungan mencari arah untuk menuju ke rumahku, rasa-rasanya beru kemarin Pak Turi, tukang becak langgananku, mengantarkupulang pergi ke TK Dewi Sartika lewat jalan depan Pasar Dinoyo ini. Lebih gila lagi kamar tempat aku rebah mendengkur, tempat aku mengistirahatkan badan setelah babak belur dihajar kehidupan, Masya Alloh gamang betul meninggalkan semua ini.
Kota kecil yang berjarak sekitar 100-an kilometer dari Surabaya ini begitu istimewa bagi diriku. Dikota ini aku menghabiskan nyaris seumur hidupku. Dikota ini aku belajar naik sepeda roda dua, pergi ke surau belajar mengaji, memiliki kawan-kawan sejati, menghirup pagi di hutan pinus, menjadi bagian garda depan siswa SMU ternama, jatuh ke sungai, menembus Fruit tea Funky Color tahun 1999, hampir mati diserempet truk gula, terjatuh di persimpangan ITN (belum ada traffic light),mengalami patah tulang tangan kiri, dilempari batu anak kampung Ambarawa, naik angkot bayar dua ratus rupiah, menjadi ace striker siji pitu, dimarahin orang tua pacar, nembak cewek pake seragam paskibra, nyuri singkongnya Mbah, jadi pengawas ujian SMP, nyari duit dari jual teh botol pas wisudaan, membersihkan counter MCD Mitra 1, mergokin maling, ngilangin sepeda motor temen, patah hati berkali-kali, dan adu jotos di lapangan bola.
Selama ini aku selalu merasa kuat cukup kuat kalau sekedar menghadapi preman-preman terminal Ubung Bali, namun malam ini ternyata aku baru menyadari aku masih gamang pergi jauh dari Malang. Malam setelah aku menandatangani kontrak kerja, aku menyusuri jalanan kota Malang. Sepanjang jalan aku mengenang kembali setipa sudut kota yang mungkin sudah ribuan kali aku lalui. Namun malam itu kota ini terasa berbeda, ketika melalui jalan pasar belimbing menuju terminal Arjosari, anganku melayang pada tahun 2008, nyaris hampir empat bulan lebih aku riwa-riwi mengejar Bus Tentrem jurusan Pasuruan. Dan malamnya menapaki jalan ini untuk pulang kerumah sekedar merebahkan badan.
Belum lagi kawasan tugu tepat aku menghabiskan masa-masa remajaku, SMA garda depan Malang terlihat tetap angker seperti pertama kali aku menginjakkan kaki. Di SMA garda depan malang raya ini banyak kenangan manis dan pahit menyertai selama tiga tahun bersekolah disana. Dulu aku cukup berandal ketika masih disana, entah sudah berapa kali aku harus berurusan dengan Guru Tatib gara-gara terlambat atau pelanggaran-pelanggaran khas remaja yang semaunya sendiri. Tentu Top of the Top pelanggaran yang aku buat saat itu adalah dihukum seharian sekolah tanpa alas kaki. Sungguh malu bukan buatan, Guru Tatib pada masa itu adalah persis seperti penggabungan dari anggota dewan dan polisi, timpang, kritis namun tidak cermat, dan yang pasti tanpa ampun!
Meskipun aku berkulit sawo matang dan berambut gelombang bukan berarti aku tidak bisa mendapatkan gadis yang aku mau, kawan. Di masa itu, aku termasuk bilangan segelintir pejantan yang sanggup menaklukan bunga-bunga kelas. Tapi jangan dulu kamu menilaiku seberandal itu, tentu saja gadis-gadis itu tidak serta-merta menerima sembarang laki-laki, bukan? Jabatan sebagai Ketua Bidang Olah Raga jelas merupakan jabatan penuh prestise yang dengan menyandangnya tiba-tiba serasa lebih kuat untuk sujud 23 rakaat, lari keliling tugu lima kali, dan lihai memainkan berbagai macam olahraga ketangkasan. Karena secara tampang aku tidak bisa terlalu berbangga,kawan. Di SMA garda depan itu banyak sekali pejantan yang punya rupa lebih manis, lebih tampan dan lebih klimis seribu kali daripadaku. Untuk menutup kelemahanku itu, terkadang setiap pagi aku dan Hakim menghambur mencari kaca besar dahulu sebelum masuk kelas. Kami selalu membawa Gatsby Hard yang khusus untuk memoles rambut agar tampil trendi. Masa itu potongan rambut ala Tintin sedang in! apalagi kami menjabat posisi terpandang di kelas dua-satu yakni Hakim sebagai ketua kelas dan aku sebagai wakilnya. Jabatan penting harus ditunjang dengan penampilan prima, kira-kira demikian motto kami waktu itu. Memang benar kata Bang Haji Rhoma jauh-jauh sebelum kami lahir ke bumi. Kurang lebihnya begini "darah muda, darahnya para remaja". Dan aku beritahu kawan, di SMA garda depan ini tidak ada yang lain yang lebih mengenal Bang Haji selain kawanku, Akhmad. Meskipun saat ini dia sudah menjadi akuntan di perusahaan minyak milik bangsa penjajah Indonesia, namun melalui status Facebooknya dia masih suka mendendangkan lagu-lagu milik Bang Haji. Aku rasa Akhmad tentu senang dengan kehadiran anak Bang Haji yang nampak siap menggantikan peran Bapaknya di kancah perdangdutan Indonesia.
Akibat terlalu banyak bersenang-senang ketimbang belajar pada akhirnya Tuhan Yang Maha Adil tidak tinggal diam, nanti aku sambung lagi masalah ini dilain cerita, kawan.
"Kita harus merantau, Bang! "
Kata rantau ini masih asing bagi telingaku, terlalu nyaman aku berdiam di Malang sehingga kata-kata ini sangat jarang aku dengar. Namun mau tidak mau suka tidak suka di jaman serba susah seperti ini hidup merantau sudah amat tidak terelakkan lagi. Akhmad dan Hakim sudah lebih dulu jauh merantau di Ibukota yang aku dengar dinominasikan menjadi Kota dengan penduduk yang hanya beberapa strip kepadatannya di bawah New York.
Gambaran keluarga kecil masa depan, satu istri tiga anak, semua berada di balik bayang-bayang merantau. Sepertinya dengan merantaulah, aku dikemudian hari bisa mewujudkan gambaran keluarga masa depanku itu. Pagi ini air mata yang menetes justru dari adikku, bukan dari gadis-gadis seperti Fahimah, Khansa' ataupun Tsana, dia Yunita Adyari Mirastuti. Jikalau senang aku cubitin pipi adikku, di kala sebal kadang aku tarik-tarik jilbabnya. Gadis kecil ini akan jadi anak tunggal kandung yang akan menemani Ayah dan Ibuku di Malang. Sambil bercucuran air mata kami saling mengucap doa, tak kusangka Dia yang biasanya begitu benci terhadapku berurai air mata mengetahui aku hari ini akan pergi untuk waktu yang lama. Mungkin inilah yang dimaksud benci tapi rindu.
Doakan aku Yah, Doakan aku Bu, anakmu merantau..
Footnote :
1). Merantau ke Jakarta, semuga saja ketika penempatan masih dapet di Jawa
2). Tulisan asli di http://andikababulu.blogspot.com/2009/11/kerja-0-km-nikah-1000km-nyium-hajjar.html

Aku dibeli dari sebuah pasar rakyat yang jalan-jalannya becek dan disudut-sudutnya dipenuhi tumpukan sampah. Saking kumuhnya pasar ini, bau busuk seperti menyeruak dari segala penjuru pasar ini. Dari selokannya yang buntu, dari tumpukan sampah yang mulai membusuk dan dari air cucian pedagang semuanya berbau busuk. Nampaknya aku harus bersabar dalam penantian panjangku di sudut pasar ini. Menanti pembeli sandal yang rela menyibak kumuhnya pasar ini hanya demi membeli sandal.
Betapa girang hatiku setelah sekian lama aku harus berjejalan di rak yang lusuh menanti dibeli seseorang. Semenjak aku dibuat, pengrajin sandal sudah mematri ingatan ku kuat-kuat sebuah keinginan untuk mengabdikan sepenuh jiwaku untuk Tuanku nantinya. Tugasku sebenarnya cukup sederhana; menjaga kaki Tuanku tetap bersih dari debu dan tidak lecet karena bergesekan dengan tanah.
Dan Tuanku yang baru sangat suka berlari. Kemanapun dia pergi dia selalu berlari, tentunya dengan memakaiku, si sandal baru. Aku berupaya menguatkan sendi-sendiku agar tetap kokoh melapisi kaki Tuanku. Aku relakan bagian diriku harus memuai akibat panasnya jalan, meringis menahan perih karena tergesek kerikil. Tuanku mengajakku berlari menyusuri pematang sawah, menemui safana, berendam di sungai berair jernih, ataupun mengaji di surau. Aku begitu bahagia menemani kemanapun Tuanku pergi. Hingga setiap hari baru menjelang, aku selalu sambut dengan sebuah tanya "kemana kiranya hari ini Tuanku akan membawaku?"
Tidak ada yang dapat mengalahkanku kekagumanku pada Tuanku. Meskipun aku hanya sebuah sandal jepit biasa namun Tuanku memperlakukanku dengan istimewa. Setiap minggu aku dibersihkannya, Tuanku membersihkanku dari debu, menyabuniku hingga wujudku selalu nampak baru. Aku bisa merasakan perhatian istimewa dari Tuanku ini kepadaku. Hingga suatu ketika Tuanku memahatkan inisial namanya di badanku sebagai tanda Dia tidak ingin aku tertukar dengan yang lain. Inilah yang membuat semakin hari aku semakin menyayangi Tuanku.
Hingga di suatu sore aku menemani Tuanku bermain dengan kawan-kawannya. Untuk pertama kalinya aku terkejut dengan keberadaan sandal-sandal lain yang menyelip di kaki kawan-kawan Tuanku. Sandal-sandal ini begitu cantik, begitu unik dan begitu serasi dengan kaki Tuannya. Sandal berwarna-warni itu keluaran pabrik sandal model terbaru. Penampilannya yang begitu menawan membuat dalam beberapa bulan sejak peluncurannya, sandal model terbaru ini laris manis di serbu pembeli. Tuanku diejek oleh kawan-kawannya karena masih menggunakan model sandal yang lama.
Malam pun menjelang, disudut rak sepatu aku termenung memikirkan peristiwa tadi sore yang menimpa Tuanku. Aku tentu merasakan tidak enak hati karena akibat keberadaanku, Tuanku dianggap ketinggalan jaman. Jujur saja keadaanku saat ini sudah tidak sebaik ketika saat pertama aku dibeli. Karet bagian bawah sudah mulai tipis akibat kerasnya gesekan medan bumi yang dilalui Tuanku, warnaku pun sudah mulai memudar karena terpapar terik yang matahari, belum lagi bagian karet yang memeluk bagian jari sudah mulai koyak dimakan usia. Tak terasa air mataku pun meleleh, aku tahu kebersamaanku dengan Tuanku tidak akan lama lagi. Cepat atau lambat Tuanku akan berhenti memakaiku dan menggunakan sandal model terbaru. Tentu saja Tuanku tidak ingin menjadi bahan olok-olok kawan-kawannya hanya karena keberadaanku. Aku jelas akan sangat merindukan bermain-main lagi bersama Tuanku. Pagi ini aku masih teronggok di rak sepatu Tuanku, biasanya selepas beduk Tuanku pulang dari sekolah dan kemudian pergi bermain ke empang. Aku kuatkan diri untuk tetap bersabar menanti kepulangan Tuanku tersayang. Aku sudah rindu ingin memeluk kakinya lagi. Lama aku menanti Tuanku tak kunjung kembali, perasaanku mulai gelisah, apakah ada sesuatu hal buruk yang menimpanya di jalan?
Tak terasa dari ufuk barat sinar matahari mulai temaram. Tuanku belum juga pulang. Hatiku semakin gelisah tak karuan. Tiba-tiba aku mendengar suara pintu terbuka, Tuanku datang namun apa yang aku lihat! Tuanku datang dengan mengenakan sepasang sandal baru warna jingga. Bagian karetnya masih tebal dan nampaknya cukup nyaman untuk melandasi kaki Tuanku. Selain tulisan Made in Italy aku melihat penampilan sandal itu begitu cantik menggeliat manja di kaki tuanku. Sama sekali tidak ada kesempatan bagiku untuk bersaing dengan sandal baru itu.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Tuanku memasukkanku kedalam tas plastik kecil. Di kepalaku ada sejuta prasangka menyergap benakku, hatiku bertanya-tanya hendak dibawa kemana diriku pagi-pagi buta begini? Apakah Tuanku hendak membuangku? Aku bingung dengan sikap Tuanku ini. Dengan langkah cepat Tuanku berjalan menuju suatu tempat yang nampaknya telah direncanakan sebelumnya. Sepanjang perjalanan tak henti aku mengutuki kehadiran sandal baru dari Italy itu, tentu saja karena kehadirannyalah aku jadi tersingkir seperti sekarang ini. Aku mengiba dalam hati semoga Tuanku berubah pikiran dan tidak meninggalkanku sendiri.
Aku merasakan Tuanku telah sampai pada tempat tujuannya, dia letakkan aku yang masih dalam keadaan terbungkus tas plastik. Aku tidak mampu melihat dengan jelas dimana saat ini Aku dan Tuanku berada. Yang jelas aku tidak mencium bau busuk sampah yang berarti aku bukan di tempat pembuangan sampah pun aku juga tidak sedang akan dihanyutkan disungai karena aku tidak mendengar suara aliran air sungai didekat kami. Sayup-sayup aku mendengar suara orang mengaji dan terdengar pula suara Tuanku sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Sekonyong-konyong aku diambil oleh Tuanku dan diletakkannya dipelataran. Ternyata Tuanku membawaku ke surau tempat dia biasa mengaji. Berdasarkan apa yang aku dengar dari percakapan Tuanku, nampaknya Tuanku telah memberikanku kepada Takmir surau ini agar dapat digunakan jamaah maupun santri yang akan mengambil wudhu. Aku menghela nafas panjang ketika aku melihat Tuanku membalikkan badan dan beranjak pulang. Aku sadar Tuanku lah yang Maha berkehendak terhadap aku, tiada daya yang bisa aku lakukan untuk menghalangi kehendak Tuanku.
Saat ini aku menjalani kehidupan baruku sebagai sandal WC surau Tuanku. Setiap orang bebas menggunakanku lebih-lebih ketika mereka harus buang hajat. Meskipun demikian kadang aku masih dapat bertemu dengan Tuanku disini. Aku masih bisa menggenggam kulit kakinya dan memberikan pelayanan terbaikku melindungi dirinya. Semua ku jalani dengan sepenuh hati, toh esensi pengabdianku tetap sama sebagai sepasang sandal.
footnote:
1). Saya kira saya pernah membaca sebuah tulisan mengenai sandal-sandal tapi untuk tulisan ini saya garansi 100% hasil karya pribadi (bukan bajakan)
2). Terimakasih kepada http://www.nafed.go.id/images/igds/D1_Sandal%20Weidenmann%20.jpg dan http://anakjenius.files.wordpress.com/2009/06/sandal-jepit.jpg atas gambar sandal-sandalnya.
3). Tulisan asli dapat dilihat pada alamat berikut : http://andikababulu.blogspot.com/2009/11/kisah-sepasang-sandal.html
Langganan:
Postingan (Atom)
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.





- Follow Me on Twitter!
- "Join Me on Facebook!
- RSS
Contact