Senin, 14 Desember 2009

Kalibata


Sejujurnya tak pernah sekalipun aku berharap mengadu nasib di Jakrta. Hanya saja, kawan, kau tahu sendirilah di Malang tak banyak instansi maupun perusahaan yang membutuhkan gelar sarjanaku. pernah di penghabisan Oktober waktu itu sebuah perusahaan yang bergerak di bidang departement store menawari-ku posisi sebagai supervisor. Bukan hanya gaji yang ditawarkan begutu murahnya namun juga risih sekali rasanya setiap hari harus melihat anak buah memakai rokmini dan stoking hitam. Sudah digaji kecil takcukup pula untuk sekedar menyambung hidup pun harus menanggung dosa mata sehari-hari.
Di kereta Argo Anggrek jurusan Jakarta aku menerawang memikirkan cita-cita 1 istri 3 anak-ku, di kerta sebelah Pak Tua Eksekutif hatiku menggigil memikirkan hiruk pikuk kota Jakarta.

Selepas Gambir, mataku tak henti-hentinya terbelalak melihat taxi Blue Bird tumpanganku membelah segitiga emas Jakarta. Hatiku berdesir ketika melewati Semanggi yang kondang di layar televisi itu, Gedung, Mal, Plaza yang menjulang tinggi membuatku merasa begitu kecil. Ada rasa haru ada rasa bangga ada rasa bingung, sedih dan gundah menyergap ke dalam dada, apa nasib orang daerah sepertiku di kota megapolitan yang trantibnya terkenal galak bukan buatan ini.
Hari Sabtu, 28 November 2009 nasibku ditentukan, ini adalah hari dimana bosa dari segala bos sales dan marketing atau biasa disebut sales director mengumumkan lokasi penempatan bagi kami sales supervisor baru. Asal kalian tahu kawan, 1 jam sebelum ini kami harus menandatangani surat bersedia di tempat kan diseluruh Indonesia. Doaku hanya satu jangan atambua ya Alloh! Satu persau nama kami di sebut, ada yang ditempatkan di Medan, Samarinda, Balikpapan, Yogya, Bandung dan Cirebon.. MasyaAlloh aku ditempatkan di Jakarta.

Malam harinya aku berembug dengan keluarga Tanteku di Cibinong tentang lokasi kost.
"Coba tanya Aya Ida, siapa tahu ada kenalan yang pernah nge-kost di daerah tebet !" kata Tante Tanti padaku.

"Aku coba hubungi kawanku dulu ya siapa tahu ada tempat kost di daerah MT. Haryono" kata Aya Ida (Aya-panggilan tante dalam bahasa Sumbawa).

"Kau jangan kost didaerah Tebet atau Cawang terlalu berbahaya" sambung Aya Ida.

" Aku coba lihatkan di daera Kalibata, disana tempatnya jauh lebih aman ".

Kalibata terkenal dengan keberadaan taman makam pahlawannya. Daerah Kalibat dekat dengan Pasar Minggu, jika jam berangkat dan pulang kantor ruwetnya lalu lintas daerah ini tak beda jauh kusutnya dengan rambut paman Einstein. Tapi jujur saja, Aya Ida tepat memberiku kost di daerah ini, kalibat strategis bukan main, ke warnet dari kost-an jalan sambil merem juga sampe', ke ATM BRI cuma sepelemparan batu sejauh 500 meter saja, warung makan juga tersebar siap membelaiperut-perut pekerja yang kelaperan, dan yang fantastis dari Psr. Minggu metromini bisa kemana saja dan murah meriah.
Jika aku menuju Kalibata Timur, aku jumpai waung nasi uduk yang nasi dan penjualnya sama-sama gurihnya. harga seporsi ayam goreng dan nasi uduk juga gak bikin kantong bolong, cuma kempes ajah, hehe.. Jika jemu dengan per-uduk-an, aku cukup banting setir ke arah barat, nasi goreng Walisongo siap menggoyang lidah kita, kawan. Cukup berbekal tujuh ribu US rupiah maka para wali dengan sepenuh hai menggorengkan untuk kita.
Jika Pagi menjelang (saat belum dikasih motor), aku berjalan kurang lebih 50 meter menuju halte empang tiga. halte empang tiga berdiri diatas jalan raya pasar minggu, sekitar 2 kilometer dari tugu pancoran arah selatan. Di jalan ini setiap pagi menjelma menjadi lautan segala kendaraan mulai gerobak bubur ayam, kendaraan roda dua, tiga, empat, enam, bahkan delapan!
Salah satu ikan yang paling agresif yang hidup di lautan ini adalah spesies berwarna orange dan biru dengan plang "metromini". Makhluk ini jika sudah macet parah bisa melakukan manuver slalom putar kiri, banting kanan, sedikit saja meleng (lengah) ketika berkendara bisa disruduk keganasan biota satu ini. Aku beritahu,kawan, hidup di Jakarta sebenarnya aman dan nyaman asalkan jangan berurusan dengan salah satu dari dua jenis makhluk yakni supir metromini dan supir bajaj.
Metromini adalah kendaraan yang seharusnya masuk musim transportasi Indonesia (bukannya masih beroperasi seperti saat ini). kalau dilihat dari kebulan asap pekat hitam beracun dan bodinya yang jauh dari kata mulus maka sudah barang tentu kalian sepakat denganku bahwa metromini bukan moda transportasi kelahiran tahun 1990 (dia eksis sudah lebih lama dari itu). Metromini berisiknya bukan main, jika melalui jalan yang tidak rata, maka kac-kacanya semua bergeletak seperti mau lompat dari lis-nya. Dari kolong tempat kita duduk jika beruntung kita bisa melihat badan jalan yang sedang kita lewati (baca : lubang). Dan yang sebenarnya kurang disadari para penumpangnya, atau mungkin mereka tahu tapi tidak mau tahu, adalah ancaman tetanus dari besi-besi berkarat yang mendominasi sebagian besar badan metromini. Meskipun keadaan sudah jauh dari sekedar baik, namun pengguna jasa metromini cukup bervariasi, mulai dari eksekutif muda yang bersetelan rapi menenteng tas laptop hingga pembantu rumah angga menor yang baru saja belanja untuk kebutuhan majikannya.
Setiap pagi tua dan muda membanjiri, menyemut diantara ruas-ruas jalan ibukota, terhisap ke dalam busway, berjejal di dalam metromini. Begitu seterusnya setiap hari demi sesuap nasi. Di jalan di Jakartajarak lima kilometer seperti ditempuh setengah hari di jam sibuk. Tidak heran muncul idiom "Orang Jakarta Tua Di Jalan" menuai pembenaran. Oh Jakarta Oh Jakarta....


0 Comments:

Posting Komentar

 
;