Kamis, 09 Juli 2009

B.I.D (Blessing in Disguised)

Saya mungkin salah satu dari sedikit manusia yang percaya bahwa Tuhan bekerja dengan cara yang misterius dan rumit. Tuhan tidak selalu sejalan dengan manusia bahkan seringkali apa yang terjadi justru berlawanan dengan apa yang dikehendaki manusia. Tapi yang menjadi luarbiasa adalah apapun ketentuan Tuhan yang kemudian terjadi, manusia tetap mampu menerima dan menjalani baik dengan pahit (bitterly), manis (sweetly), getir (or painfully).
Dan begitulah cara Tuhan bekerja dalam kehidupanku..


Setelah graduate dari SMA, Ibu cuma ingin melihat anaknya kuliah di Brawijaya.
" Di Brawijayakan jurusannya ada banyak! kan kamu bisa pilih mana yang sesuai, ndak perlu kuliah jauh-jauh di ITS!" kata Ibu.

Impianku sebenarnya ingin kuliah di jurusan Teknik Industri ITS Surabaya, tempat favorit lulusan SMA yang tertarik dengan ilmu-ilmu keindustrian. Apalagi dengan embel-embel teknik, wah idola kaum hawa pastinya!
Berjuta anganku melayang membayangkan berkuliah di kota episentrum perekonomian Jawa Timur. Menginjakkan kaki di kampus idaman, yang mungkin untuk mendapatkan satu kursinya maka harus mampu mengalahkan 100 orang dengan keinginan yang sama. Sangat menantang bukan?! tapi semua angan-angan itu musnah, Brawijaya adalah satu-satunya tempat dimana aku akan meneruskan Studi.

Akhirnya setelah melihat-lihat sekian banyak daftar jurusan yang tersedia di Brawijaya, mataku tertuju pada jurusan dengan nama Teknologi Industri Pertanian. Kontan aku langsung mengaitkannya dengan Teknik Industri impianku. Jurusan yang tersedia di Brawijaya yang mengandung kata industri, saat tahun 2003, hanya Teknologi Industri Pertanian, ahh hanya karena ada kata industri hati ini rasanya begitu kepincut. Rasa-rasanya Ibu juga tidak akan keberatan aku kuliah di Teknologi Industri Pertanian Brawijaya.

Ibu, Bapak, Bule' Tanti, Om Tikno, adalah sebagian dari kultur jurusan Sosial (IPS) di keluarga Harjodarsono. Apakah kemudian aku harus menambah lagi dengan berkuliah di jurusan IPS? inilah sebabnya sebisa mungkin aku kuliah di jurusan IPA, meskipun dengannya aku betul-betul struggle. Kalau boleh jujur sebenarnya nilai-nilai mata pelajaran IPS ku jauh lebih baik daripada IPA. Bakat IPS sudah muncul semenjak aku duduk di Sekolah Dasar. Jaman itu, aku lebih suka membaca RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap) daripada berlatih aljabar. Aku juga hafal Ibu kota sebagian besar negara di Dunia ini daripada rumus Sin, Cos, Tangen.
Tapi akhirnya aku ketahui setelah 6 tahun berkuliah, bahwa lebih baik menambah jumlah sarjana IPS di keluargaku daripada harus bersusah-susah menguasai pelajaran eksak.
Kesimpulan memang selalu datang terlambat, itulah sebabnya dalam skripsi Bab Kesimpulan ada dibagian akhir sebelum Daftar Pustaka.


Pengumuman SPMB

Berjuta-juta kata-kata tak mampu aku keluarkan ketika aku dinyatakan diterima kuliah di Brawijaya. Bersyukur karena saat itu tidak sedikit kawan-kawan seperjuangan yang gagal. Rasio kursi di Teknologi Industri Pertanian saat itu 1:15, artinya saat aku merayakan euforia malam itu dengan bersujud syukur di depan kantor rektorat Brawijaya, ada sekitar 15 anak yang mungkin mogok makan dan mengurung diri di kamar. Girang bukan mainan, sampai-sampai senter yang aku pakai buat melihat pengumuman penerimaan mahasiswa baru raib, aku tak peduli!

Potret Sudut TIP sebelum pindah

Tahun pertama di Teknologi Industri Pertanian tak seindah bayangan. Aku menjumpai mata kuliah yang juga sempat menjadi momok bagiku di masa SMA dulu. Tahun pertama aku harus mengikuti praktikum MIPA dasar antara lain: Biologi, Kimia dan Fisika Dasar. Sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan, aku kira akan belajar pengelolaan industri, dasar-dasar mikroekonomi dan semacamnya. Sekitar pertengahan tahun 2007, mata kuliah dasar semacam ini sudah banyak yang dihapus dari kurikullum jurusan. Terlambat! nilaiku sudah terlanjur gawat!

Teknologi Industri Pertanian saat aku masuk masih berumur 5 tahun! pecahan dari Fakutas Pertanian yang kemudian bersama dengan Teknologi Hasil Pertanian dan Teknik Pertanian mendirikan Fakultas Teknologi Pertanian. Hingga saat ini aku masih sulit menjelaskan keorang-orang bahwa aku bukan Mahasiswa Pertanian. Dari segi fasilitas tidak bisa banyak berharap, selain kuliah tidak dalam satu kompleks fakultas, kebanyakan gedung yang digunakan adalah pinjaman dari Fakultas lain. Ironis, padahal Fakultas Teknologi Pertanian rajin menjuarai PIMNAS.

FTP Voteball Club

Aku sempat merasakan tidak nyaman waktu itu, ini jelas bukan kampus yang aku idam-idamkan. Fasilitas yang minim, Dosen S3 tidak banyak, makin suram saja masa depan kurasakan. Sementara aku memilih bertahan, satu demi satu teman-teman angkatanku memutuskan pindah setelah satu tahun kuliah di Teknologi Industri Pertanian. Who can blame them?

Daripada mengutuk kesalahan yang aku perbuat maka aku sibukkan dengan mengikuti berbagai macam kegiatan intrakampus. Ditahun pertama aku sudah bergabung dengan Unit Aktivitas Pers Mahasiswa Brawijaya. Aku juga intens terlibat dengan Program Pengenalan Kehidupan Kampus (Ospek). Karir organisasi aku bangun dengan menjadi staf bawahan alias kacung Ospek tahun 2004. Pada Ospek itu aku menjadi staf Perlengkapan, kerja paling pagi pulangnya paling malam. Mungkin bisa dikatakan kerjaku mirip OB, hehe..suka disuruh-suruh ini dan itu. Aku jalani saja, namanya juga merintis karir. Tahun 2005 aku naik kelas jadi Ketua Seksi Perlengkapan PK2 (Ospek), jabatan ini jelas lebih menantang daripada OB. Aku belajar tentang bagaimana tender berlangsung bahkan memanajemen konflik.

The HamsyonkBand in Memoriam

Setelah cukup bekal pengalaman aku mencoba mendaftar menjadi Ketua Pelaksana pada tahun 2006. Kepemimpinanku kali ini menuai prestasi, MABA FTP juara 2 lomba antar Fakultas Se-Brawijaya, Alhamdulillah, dan gara-gara sering terlibat organisasi ini pula aku punya hubungan cukup baik dengan Bapak-bapak pejabat FTP. Sesuatu yang aku syukuri manfaatnya ketika akan lulus seperti saat ini.
Pengalaman beberapa kali menjadi Ketua Pelaksana dan terlibat dalam Organisasi yang aktif dan enerjik membuat aku ingin menularkan kultur yang sama kepada kawan-kawan seperumahan.
Aku merasa diberi banyak kesempatan oleh Fakultas kecilku ini untuk berkembang menjadi manusia yang lebih baik,merasakan organisasi dilevel-level yang berbeda yang mungkin kalau aku bergabung dengan ITS aku belum tentu punya peluang yang sama mengingat SDM di ITS tentu banyak yang lebih baik.

Meramaikan Gerak Jalan Kelurahan

Selepas aktif di kampus aku terlibat inisiasi Eight Community RW 08, aku dipercaya menjadi ketua periode 2006-2008, organisasi ini meskipun mikro tapi cukup Fun. Banyak kegiatan gila, kreatif dan breakthrough yang ditelorkan oleh Eight Community.
Kolaborasi paling menyenangkan selama di Eight Community dengan Sani, Cico, Heppi dan arek-arek Eight yang lain antara lain adalah Pertunjukkan Live "Delapan Mata" , Buletin "Eight Post", Pembuatan Blog Eight Community, dan Syuting Film Ayat-ayat Cinta Tlogomas", semua proyek ini origin dan belum pernah dilakukan sebelumnya.

Delapan Mata Sebelum Show

Aku bersyukur punya kawan-kawan kreatif, cerdas dan pemimpi macam mereka, segala hal menjadi mungkin. Kalau saja aku bergabung dengan ITS mungkin aku tidak akan memiliki kesempatan bersama mereka.

Eight-ers Wedding Crasher

Suatu ketika aku memohon pada Tuhan agar mengubahku menjadi seekor burung, agar aku bisa terbang menjauh dari kekacauan hidup. Tapi Tuhan tidak merubahku, Dia tidak mengabulkan doaku, justru Tuhan menunjukkan padaku a wonderful world..

Bersama dengan kawan-kawan TIP, aku untuk pertama kali dalam hidupku menginjakkan kaki di Pulau Dewata, hal ini terjadi pada tahun 2007. Demi mengisi waktu liburan yang cukup panjang Aku, Hisep, Budi dan Berizka memutuskan untuk melancong ke Pulau Bali.
Bali here we Come

Semenjak Bali ditetapkan menjadi 10 pulau terindah didunia membuat kami menggebu ingin menjadi saksi keindahan tersebut. Apalagi mungkin setelah tahun 2007, masing-masing dari kami akan disibukkan dengan berbagai macam aktifitas akademik menuju kelulusan.

Sensualitas Pulau Dewata

Berbekal 500 ribu rupiah kami menghabiskan 4 hari 3 malam di Pulau Bikini. Aku awalnya tidak terlalu yakin bisa survive, namun kawan-kawan yang mendampingiku saat ini adalah orang-orang ahli survival alias ahli bertahan hidup. Bagaimana tidak, ketika menjadi Maba mereka sudah tidur beralaskan rumput basah dengan suhu 17 derajat celcius di perbukitan Coban Talun selama 2 hari. Fisiknya ditempa jurit malam 2km menerobos flora hutan di kawasan utara Malang itu. Selepas Maba mereka membantuku melaksanakan Ospek jurusan ditempat yang sama. Bedanya mereka kali ini harus mensurvei medan dengan kemping 3 hari sebelum hari H. Setiap malam-malam yang mereka lewati disana tanpa dikover sinyal handphone, musik yang mereka dengar adalah suara-suara lolongan binatang, dan pada hari kedua mereka kehabisan makanan dan bertahan dengan memakan ubi tersisa.

kika: Hisep, Pak Djoger, Andik, Budi

Dengan mereka aku berfoto bersama owner Djoger Bali, dengan mereka aku tinggal di penginapan 20 rb semalam dibagi dua, dengan mereka aku merasakan mabuk laut pertamaku di penyebrangan muncar-gilimanuk.Mungkin jika aku jadi bergabung dengan ITS, aku tidak akan pernah menginjakkan kaki di Pulau Bali.


Thanks Nestle Indonesia

Aku juga diberi kesempatan mencicipi magang kerja di PT. Nestle Indonesia Kejayan Factory. Kebetulan saat aku melamar, perusahaan sedang membutuhkan mahasiswa dengan background industri pertanian. Sungguh pengalaman dan kesempatan luar biasa bisa merasakan menjadi bagian dari PT. Nestle Indonesia selama 4 bulan. Aku memiliki networking baru, wawasan baru dan melihat langsung pembuatan susu Dancow. Susu yang merupakan favorit aku sewaktu kecil dulu.
Di Teknologi Industri Pertanian pula cintaku bersemi pada suatu sore, kisah ini mungkin akan aku ceritakan pada kesempatan yang lain.

Terimakasih ya Allah, tidak semua keinginanku Kau kabulkan, Kau yang lebih mengerti apa yang sebenarnya baik bagiku, entah kuliah di Harvard atau TIP esensi kuliah tetap sama, mungkin aku tidak terlalu pandai dalam mensyukuri kehidupan yang Kau beri, tapi tulisan ini adalah salah satu bentuk how gratefull i am ;)

3 Comments:

Andik mengatakan...

Footnote:
1. TIP Brawijaya sudah punya gedung sendiri meskipun bekas Poltek. Dan sekarang FTP sudah mulai menjadi satu komplek tidak tercerai-berai kayak dulu.
2. Dalam tulisan ini saya cuma ingin menunjukkan keajaiban Tuhan dalam hidup saya, bukan menjelek-jelekan institusi tertentu.
3. Moral dari kisah ini adalah : Selalu berprasangka baiklah kepada Tuhan, karena segala yang kemudian terjadi baik atau buruk adalah sesuai dengan prasangka kita kepadaNya. Pandai-pandailah bersyukur dengan nikmat yang diberikan kepada kita apapun bentuknya

ismaa mengatakan...

postingaaaan bagus!!!
sayang,,aku ga bisa menemukan blessing in dosguise ini di fakultas yg sama ndik..
keep struggle yah:)

kabar2 kalo kompre

Andik mengatakan...

Alhamdulillah, semuga psotingan saya bisa bermanfaat. Kompre kulo tanggal 24 Juli, keganggu acara PIMNAS kuwi lho.
Mohon doa restu Nggih :)

Posting Komentar

 
;